Shafwat Tafasir

Kajian Sofwat Tafasir Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil di Pesantren Dzinnuha, 30 Agustus 2026
Al-Qur'an bukan sekadar mukjizat yang memukau dari segi bahasa, tetapi juga pedoman hidup yang menyentuh naluri mendasar manusia. Salah satu cara Al-Qur'an menyampaikan petunjuk-Nya adalah melalui kisah-kisah nyata yang sarat akan pesan moral dan spiritual. Dari keseluruhan cerita dalam Al-Qur'an, kisah Nabi Yusuf A.S. memiliki tempat istimewa karena disampaikan secara utuh, penuh dinamika emosi, serta menjadi cermin bagi hubungan keluarga, kecemburuan, dan takdir Ilahi.
1. Kemukjizatan Bahasa Al-Qur'an: Mengapa Berbahasa Arab?
Al-Qur'an dibuka dengan penegasan bahwa ayat-ayatnya bersifat mubin—sangat jelas, terang benderang, dan tidak meragukan. Kemukjizatan Al-Qur'an terletak pada gaya bahasanya yang tidak mampu ditandingi oleh manusia mana pun, bahkan oleh para pakar sastra Arab zaman dahulu yang ditantang untuk membuat satu surah yang serupa.
Mengapa Al-Qur'an Diturunkan dalam Bahasa Arab? Sebagian orang mungkin bertanya-tanya, apakah Allah berbahasa Arab? Tentu tidak. Ditukaskannya Al-Qur'an dalam bahasa Arab merupakan Sunnatullah dalam pengutusan nabi. Allah selalu mengutus seorang rasul dengan bahasa kaumnya agar pesan tersebut dipahami secara langsung.
Selengkapnya ...

Kajian Sofwat Tafasir Surat Baqarah Ayat 249 Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil, 9 April 2017
Bismillahirrahmanirrahim.
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْٓ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً ۢ بِيَدِهٖۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۙ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖۗ قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢ بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ٢٤٩
"Maka, ketika Talut keluar membawa bala tentara(-nya), dia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai. Maka, siapa yang meminum (airnya), sesungguhnya dia tidak termasuk (golongan)-ku. Siapa yang tidak meminumnya, sesungguhnya dia termasuk (golongan)-ku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.' Akan tetapi, mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, 'Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.' Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, 'Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.' Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 249)
Keimanan itu menuntut sebuah konsekuensi. Seseorang yang bersaksi bahwa dirinya beriman, niscaya akan dihadapkan pada ujian demi ujian untuk membuktikan sejauh mana kejujuran syahadatnya. Menengok kembali lembaran sejarah Bani Israil dalam Surat Al-Baqarah, kita dihadapkan pada sebuah potret epik tentang Raja Thalut, seorang pemimpin yang ditunjuk langsung oleh Allah yang memimpin 80.000 pasukan tempur.
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil
Pendahuluan: Urgensitas Ilmu Munasabah dalam Sistematika Wahyu
Dalam studi Ulumul Qur'an, salah satu cabang ilmu yang amat krusial untuk memahami keutuhan makna al-Qur'an adalah Ilmu Munasabah. Yakni kajian ilmiah mengenai korelasi, keterkaitan, dan keserasian antar-ayat maupun antar-surah.
Secara historis, al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus (jumlatan wahidatan), melainkan secara berangsur-angsur (tanjil) selama kurang lebih 23 tahun sesuai dengan konteks peristiwa (asbab an-nuzul).
Sebagai contoh, wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ di Gua Hira adalah lima ayat pertama dari Surah Al-'Alaq (Iqra'). Namun, ketika al-Qur'an dibukukan ke dalam bentuk Mushaf Usmani, urutannya diawali oleh Surah Al-Fatihah.
Ketidaksesuaian antara kronologi penuturunan (tartib an-nuzul) dan penulisan dalam mushaf (tartib at-taqfif/at-tawbib) ini bukanlah kebetulan. Penempatan setiap ayat dan surah dibimbing langsung oleh Wahyu Ilahi (tauqifi) melalui arahan Rasulullah ﷺ kepada para juru tulis wahyu. Oleh karena itu, mencari benang merah (korelasi) antara satu kelompok ayat dengan ayat berikutnya merupakan tugas intelektual para mufasir untuk menyingkap keutuhan pesan Al-Qur'an.
Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kajiannya mengenai Surah Yunus ayat 21 hingga 39 menunjukkan bagaimana kelompok ayat ini bersambung secara harmonis dari pembuktian risalah (ayat-ayat sebelumnya) menuju pembuktian ketidakrasionalan perbuatan syirik serta potret psikologis manusia yang labil.
Selengkapnya ...

Kajian Sofwat Tafasir, bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil, pembuka Surat Yusuf
Setiap surah di dalam Al-Qur'an diturunkan dengan karakteristik, irama, dan maksud yang unik. Namun, Surah Yusuf memegang posisi istimewa di hati para pembacanya. Berbeda dari kebanyakan surah Makkiyah yang sarat akan peringatan keras dan ancaman, Surah Yusuf hadir bagaikan embun pagi (nadiyyah)—segar, lembut, dan penuh dengan penawar kegetiran hidup.
1. Latar Belakang Penurunan: Penawar Luka Sang Nabi (Tasliyah)
Surah Yusuf diturunkan pada salah satu fase tersulit dalam kehidupan Rasulullah. Momen tersebut terjadi setelah penurunan Surah Hud—surah yang begitu menegangkan hingga membuat fisik dan gaya kepemimpinan Nabi merasakan beban yang amat berat.
Kala itu, Rasulullah baru saja kehilangan dua pilar utamanya dalam waktu yang berdekatan:
- Siti Khadijah: Istri suci, penuh kasih, tempat berteduh, dan penyokong emosional terbesarnya.
- Abu Thalib: Paman sekaligus benteng perlindungan politik dan sosial dari gangguan kaum Qurays.
Masa perih ini dicatat dalam sejarah sebagai 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Beliau dan para sahabat mengalami keterasingan (al-ghurbah) dan isolasi di tanah kelahiran sendiri.
Di tengah kesepian (al-wahsyah) dan penderitaan bertubi-tubi itulah Allah menurunkan Surah Yusuf sebagai tasliyah/sebuah hiburan, penawar luka, dan balsem spiritual (balsam) untuk menenteramkan hati Baginda Nabi. Seolah Allah berfirman:
"Janganlah engkau berduka wahai Muhammad. Lihatlah saudaramu Yusuf, perhatikan bagaimana ia melewati berbagai bentuk ujian dan makar, hingga akhirnya Allah berikan kejayaan."
Selengkapnya ...

Meneguhkan Hati dan Menata Jiwa: Point Penting Kajian Akhir Surat Hud
Rangkuman Kajian bagian akhir Surah Hud ayat 113-habis oleh Habib Husein bin Alwy Binagil menegaskan bahwa tujuan utama pengkisahan sejarah masa lalu dalam Al-Qur'an adalah sebagai peneguh jiwa Nabi Muhammad SAW serta pelajaran (ibrah) bagi kaum mukminin. Disampaikan di Pesantren Dzinnuha Sawojajar pada 16 Agustus 2026.
1. Keimanan dan Kecerdasan Spiritual sebagai Kunci Kebenaran
Al-Qur'an menegaskan bahwa nasihat dan pelajaran mulia dikhususkan bagi orang-orang yang beriman (wa dzikraa lil mu'miniin). Kunci utama menangkap petuah Al-Qur'an bukanlah kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi semata, melainkan kecerdasan spiritual yang lahir dari keimanan. Orang yang bergelar akademik tinggi namun gagal menangkap sinyal kebenaran agama dijuluki Al-Qur'an sebagai sufaha (orang-orang yang dangkal kecerdasan jiwanya). Sejarah kisah para nabi terdahulu disampaikan dengan keakuratan 100% (al-naba' al-yaqini al-shadiq) guna meneguhkan kemantapan hati Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah.
Keinginan Ilahi dan hidayah merupakan anugerah (fadhl) khusus dari Allah, bukan semata-mata karena silsilah keluarga, keturunan, atau kepintaran personal. Di sisi lain, amalan kebaikan—seperti shalat lima waktu (ash-shalawat al-khams)—memiliki kekuatan untuk menghapuskan dosa-dosa kecil (gugurnya dosa kecil). Namun, untuk dosa besar, dibutuhkan taubat nasuha (ijtinaab al-kaba'ir). Oleh karena itu, Allah menekankan pentingnya bersabar dan istiqamah dalam beribadah serta menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik (laa yudhii'u ajral muhsiniin).
Selengkapnya ...

Rangkuman Kajian Sofwat Tafasir Surat Hud rumpun ayat 105-113 Bersama Habib Husain Ibn Alwy Binagil
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala Asyrafil Anbiya’i wal Mursalin, Sayyidina wa Maulana Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Membaca Al-Qur'an adalah sebuah perjalanan menelusuri keindahan hikmah Ilahi. Ketika kita sampai pada Surah Hud ayat 105 hingga 113, kita dihadapkan pada gambaran yang sangat menggetarkan jiwa mengenai Hari Kiamat (Yaumul Qiyamah)—hari ketika setiap jiwa harus mempertanggungjawabkan segala yang telah diamalkannya di muka bumi.
Hari Pertanggungjawaban: Antara Sengsara dan Bahagia
Allah SWT berfirman:
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ اِلَّا بِاِذْنِهٖۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَّسَعِيْدٌ ١٠٥
“Di hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara melainkan dengan izin-Nya. Maka di antara mereka ada yang sengsara (syaqiyy) dan ada yang bahagia (sa‘id).” (QS. Hud: 105)
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Surat Yunus
Pendahuluan: Karakteristik dan Periodisasi Surah Yunus
Al-Qur'an merupakan wahyu Ilahi yang diturunkan secara berangsur-angsur (tanjil), di mana susunan urutan surah dalam mushaf bersifat tauqifi (ketetapan langsung dari Allah dan Rasul-Nya) dan tidak selalu sejajar dengan kronologi historis turunnya ayat (asbab an-nuzul).
Surah Yunus, yang menempati urutan ke-10 dalam susunan Mushaf Usmani, secara mayoritas dikategorikan sebagai surah Makkiyyah—yakni kelompok surah yang diturunkan sebelum peristiwa Hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah. Ciri mendasar dari kelompok surah Makkiyyah adalah fokus pembahasannya yang menitikberatkan pada pengokohan pilar-pilar akidah (ushul ad-din), penanaman keimanan kepada Allah SWT, pembuktian kebenaran risalah kenabian, serta kepastian hari kebangkitan (al-ba'th).
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Tafsir At-Taubah 121-122
Sering kali kita membayangkan kebaikan atau perjuangan (jihad) dalam Islam sebagai sesuatu yang amat megah, kolosal, dan sulit dicapai oleh orang biasa. Padahal, jika kita menyelami petunjuk Al-Qur'an—khususnya pada Surah At-Taubah ayat 121–122—Allah justru mengetuk hati kita melalui hal-hal yang begitu dekat dengan keseharian.
Sesuap Nasi yang Menghadirkan Kepedulian Langit
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 121:
وَلَا يُنفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 121)
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil:
Tafsir At-Taubah 122
Ayat ini menjelaskan tentang pembagian tugas dalam masyarakat Islam, di mana tidak semua orang harus terlibat langsung dalam peperangan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
۞ وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَࣖ ١٢٢
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. QS At-Taubah: 122)
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil 2 Februari 2025
Al-Qur'an, kalamullah yang abadi, senantiasa membuka lembaran-lembaran hikmah bagi setiap insan yang merenunginya. Dalam Surah At-Taubah, khususnya ayat 101 hingga 107, kita disuguhkan potret jujur tentang hakikat kemunafikan dan kemurahan Allah dalam menerima tobat. Ayat-ayat ini, bagaikan cermin, memantulkan ragam karakter manusia dan konsekuensi pilihan-pilihan hidup mereka.
Menyelami Kedalaman Kemunafikan: Teguran Ilahi untuk Hati yang Membatu
وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَّكُفْرًا وَّتَفْرِيْقًا ۢ بَيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ مِنْ قَبْلُۗ وَلَيَحْلِفُنَّ اِنْ اَرَدْنَآ اِلَّا الْحُسْنٰىۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ ١٠٧
"Di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu ada orang-orang munafik. (Demikian pula) di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Nabi Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar." (QS. At-Taubah: 101)
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Surat at-Taubah 124
وَاِذَا مَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ اَيُّكُمْ زَادَتْهُ هٰذِهٖٓ اِيْمَانًاۚ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَزَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ ١٢٤
Apabila diturunkan suatu surah, di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun (bagi) orang-orang yang beriman, (surah yang turun) ini pasti menambah imannya dan mereka merasa gembira.
Ayat di atas menggambarkan reaksi yang berbeda terhadap turunnya surah Al-Qur'an antara orang-orang munafik dan orang-orang beriman. Untuk memahami konteksnya, mari kita telaah lebih dalam.
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein ibn Alwy Bin Agil 11 Mei 2025: Bagian Pertama
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ ١١٩
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!
Ayat ini termasuk ayat Madaniyah karena diawali dengan kalimat
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا
yang merupakan ciri khas ayat-ayat Madaniyah.
Perintah Allah kepada orang-orang beriman, khususnya penduduk Madinah, untuk bertakwa. Salah satu tafsir dari kalimat "at-taqwa" sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sabdanya,
"Attaqwa Haahuna"
Takwa itu di sini (yaitu di dalam hati)
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Tafsir
At-Taubah 121
Dalam jihad fi sabilillah, peran serta orang yang berinfaq dan bershadaqah meski sangat sedikit sangatlah penting dan berharga dihadapan Allah. Allah tegaskan:
وَلَا يُنْفِقُوْنَ نَفَقَةً صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً وَّلَا يَقْطَعُوْنَ وَادِيًا اِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللّٰهُ اَحْسَنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٢١
Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. At-Taubah: 121)
Ayat yang agung ini, bagaikan lukisan indah tentang kemurahan Allah dan keadilan-Nya, menyingkap tabir bahwa setiap gerak dan gerik, setiap tetes peluh dan curahan harta di jalan kebaikan, sekecil apapun, tidak akan pernah luput dari catatan Sang Maha Pencatat.
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein ibn Alwy Binagil: Surat Taubah ayat 125-127
وَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا اِلٰى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوْا وَهُمْ كٰفِرُوْنَ ١٢٥
Adapun (bagi) orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, (surah yang turun ini) akan menambah kekufuran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir.
Ayat ini secara jelas menggambarkan kondisi orang-orang yang hatinya bermasalah, atau dalam konteks agama disebut kemunafikan. Ini berarti keyakinan dan akidah mereka cacat. Ada kemunafikan dan keragu-raguan dalam meyakini kebenaran agama Allah. Ketika sebuah surah diturunkan, alih-alih mendapatkan petunjuk, mereka justru bertambah kemunafikannya dan kekafirannya semakin menjadi-jadi. Akibatnya, hati mereka semakin kotor dan sesat, yang pada akhirnya akan menyebabkan mereka meninggal dunia dalam keadaan kafir.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk tidak pernah meninggalkan dunia fana ini kecuali dengan membawa keimanan. Jabatan, status sosial, atau kekayaan tidak akan dituntut di akhirat. Yang dituntut hanyalah satu hal: status diri sebagai seorang muslim yang teguh. Sebagaimana firman Allah,
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil Ahad 25 Mei 2025
Surat At-Taubah ayat 123 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَاتِلُوا الَّذِيْنَ يَلُوْنَكُمْ مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوْا فِيْكُمْ غِلْظَةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ١٢٣
Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekitarmu dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein bin Alwy bin Agil 9 Februari 2025: Tafsir
At-Taubah 109-111
Menyelami samudra makna Surah At-Taubah, khususnya ayat 109
hingga 111, dengan sentuhan pemahaman yang membuka cakrawala pemikiran kita,
menyingkap lapisan-lapisan hikmah yang tersembunyi di balik untaian firman
Allah SWT.
Ayat 109
اَفَمَنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى تَقْوٰى مِنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ اَمْ مَّنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهٖ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ١٠٩
Maka, apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya
(masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan rida(-Nya) itu lebih baik, ataukah
orang-orang yang mendirikan bangunannya di sisi tepian jurang yang nyaris
runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka
Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim
Selengkapnya ...

Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Tafsir At Taubah 120
مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُم مِّنَ الْأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُوا عَن رَّسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنفُسِهِمْ عَن نَّفْسِهِ ۚ
Tidak sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui di sekitar mereka tidak turut menyertai Rasulullah (berperang), dan tidak (pula) mencintai diri mereka sendiri melebihi cintanya kepada diri Rasulullah. (QS. At-Taubah: 120)
Ayat ini merupakan teguran keras dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui (A'rab) di sekitar mereka yang tidak ikut serta dalam Perang Tabuk.
Selengkapnya ...

Ringkasan Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein bin Alwy bin Agil 4 Mei 2025: Tafsir At-Taubah 117-118
Ayat 117 dan 118 dari Surah At-Taubah menghadirkan lukisan agung tentang rahmat dan kasih sayang Allah Swt., terutama dalam konteks kesulitan dan ujian yang dihadapi oleh kaum Muslimin di masa Rasulullah Saw. Lebih dari sekadar catatan sejarah, ayat ini menyimpan pelajaran mendalam tentang kekuatan taubat dan istighfar, sebagaimana yang senantiasa ditekankan dalam kajian-kajian hikmah, termasuk yang disampaikan oleh Habib Husein Ibn Alwy Ibn Agil.
Allah Swt. berfirman:
لَقَدْ تَّابَ اللّٰهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ فِيْ سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيْغُ قُلُوْبُ فَرِيْقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْۗ اِنَّهٗ بِهِمْ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌۙ ١١٧
Sungguh, Allah benar-benar telah menerima tobat Nabi serta orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar yang mengikutinya pada masa-masa sulit setelah hati sekelompok dari mereka hampir berpaling (namun) kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. (QS. At-Taubah [9]: 117)
Selengkapnya ...