Shafwat Tafasir


Edit

📄

Kawah Candradimuka Sang Kekasih: Memaknai Tiga Ujian Berat dan Kesucian Nabi Yusuf 'Alaihissalam

Kajian Sofwat Tafasir, Surat Yusuf Ayat 18-25 Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil

Al-Qur'an merekam perjalanan hidup Nabi Yusuf 'Alaihissalam bukan sekadar sebagai rentetan peristiwa masa lampau, melainkan sebagai Ahsanul Qashash (kisah terbaik) yang memancarkan pelita panduan hidup. Sebelum Allah menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di bumi Mesir, Yusuf harus melintasi serangkaian ujian yang amat memilukan. Ini adalah sebuah "kawah candradimuka", proses tarbiyah (pendidikan) ilahiah yang menimpa seorang hamba pilihan, yang dapat kita renungkan melalui tiga fase ujian besar.

Pertama: Pengkhianatan Darah Daging dan Gelapnya Sumur

Ujian kehidupan Yusuf bermula dari kedengkian (hasad) yang bersarang di hati saudara-saudaranya. Mereka tega memisahkan Yusuf kecil dari dekapan cinta sang ayah, Nabi Ya'qub, dan melemparkannya ke dasar sumur yang gelap. Di sinilah Al-Qur'an memperlihatkan kehalusan bahasanya (balaghah). Ketika saudara-saudaranya kembali membawa baju Yusuf yang dilumuri darah, Al-Qur'an menggunakan ungkapan bidamin kadzib (dengan darah dusta/palsu). Darah benda mati yang tak bisa berdusta, namun penggunaan kata ini adalah bentuk mubalaghah (penekanan luar biasa) yang menggambarkan betapa rekayasa mereka benar-benar sebuah kebohongan yang nyata.

Membaca peristiwa ini, sebagian orang mungkin bertanya: mungkinkah kelak mereka yang berbuat sekeji ini adalah para nabi? Sebagian mufassir masa lalu keliru berpendapat bahwa saudara-saudara Yusuf berstatus nabi dengan dalil kata "Al-Asbath". Namun, para ulama muhaqqiqun (peneliti) meluruskan pandangan ini dengan tegas. Saudara-saudara Yusuf saat itu bukanlah nabi, sebab seandainya mereka nabi, mustahil mereka berani melakukan dosa besar seperti hasad, berbuat kerusakan, berdusta, hingga berani melakukan tindakan pembunuhan. Tindakan-tindakan keji ini amat sangat bertentangan dengan 'ishmah (keterjagaan dari dosa) yang merupakan pelindung mutlak bagi para utusan Allah.

Kedua: Kehilangan Kemerdekaan di Pasar Budak

Dari kegelapan sumur, Yusuf memang diselamatkan oleh musafir, namun nasibnya berganti menyayat hati: ia terenggut kemerdekaannya dan dijadikan barang dagangan. Ia dijual dengan harga murah dan dibeli oleh "Qithfir", seorang Al-Aziz yang mengurusi aset perbendaharaan negara Mesir. Akan tetapi, di balik skenario yang menempatkan sang anak merdeka menjadi budak ini, ada rahasia kelembutan ketentuan Allah yang kerap tidak disadari manusia yang cenderung tergesa-gesa.

Al-Aziz yang tidak memiliki anak berniat menjadikan Yusuf sebagai anak angkat yang kelak bermanfaat bagi mereka. Di istana inilah Allah merawat Yusuf, dan tatkala usianya mencapai puncak kematangan (sekitar 30 tahun), Allah menganugerahkan kepadanya hikmah (pemahaman agama) dan ilmu. Ini memberi kita isyarat halus bahwa kematangan usia dan keseimbangan emosi seorang hamba menjadi wadah turunnya anugerah pemahaman dari Tuhan.

Ketiga: Badai Syahwat di Balik Pintu Terkunci

Ujian belum berakhir. Memasuki usia dewasa yang memancarkan puncak ketampanan, badai fitnah yang jauh lebih dahsyat datang menerpa. Zulaikha, istri majikannya yang jelita dan berkuasa, terjerat pesona Yusuf hingga cintanya merasuk ke lubuk hati yang terdalam (syaghafahaa hubban).

Al-Qur'an melukiskan betapa kuatnya godaan ini dengan kata waraawadat'hu, yang berarti sang wanita merayu berulang-ulang, meminta dengan kata-kata manis yang seakan dilumuri madu, dan menggunakan segala cara untuk menundukkan Yusuf. Situasi dibuat sangat menjepit: Zulaikha menutup rapat semua pintu istana (wa ghallaqatil abwaab)—disebutkan hingga tujuh lapis pintu dikunci—dan memanggilnya, "Hayta lak!" (Marilah kemari, bergegaslah, tak ada lagi yang perlu ditakutkan).

Pada titik ini, Yusuf berada dalam kerentanan luar biasa sebagai seorang pemuda, bawahan, dan terkurung. Namun, justru di sanalah 'ishmah sang nabi memancar terang. Beliau seketika berseru, "Ma'aadzallah" (Aku memohon perlindungan kepada Allah). Beliau menegaskan bahwa tuannya telah memuliakannya, dan sungguh orang-orang yang zalim lagi berkhianat tidak akan pernah memanen keberuntungan.

Ada satu ayat yang sering disalahpahami di sini, yaitu firman Allah: "Dan sungguh wanita itu telah bermaksud kepadanya (hammat bihi), dan Yusuf pun bermaksud kepadanya (hamma bihaa) seandainya dia tidak melihat tanda dari Tuhannya." Ulama-ulama besar seperti Al-Fakhr Ar-Razi dan Abu As-Su'ud memberikan pandangan yang sejuk dan sangat menjaga kesucian Sang Nabi. Mereka menjelaskan bahwa kedua "keinginan" (hamm) ini amatlah berbeda. Keinginan Zulaikha adalah tekad bulat (tashmim) yang kuat dan disengaja untuk berbuat mesum. Sementara itu, hamm yang ada pada Yusuf hanyalah kecenderungan naluriah manusiawi semata (lintasan pikiran), bagaikan orang berpuasa di terik musim panas yang nalurinya ingin meminum air dingin di hadapannya, namun seketika agamanya mencegahnya.

Bahkan, para ulama menegaskan bahwa Yusuf sama sekali tidak pernah berniat untuk berbuat maksiat. Adapun kisah-kisah (israiliyyat) yang menggambarkan bahwa beliau nyaris menggagahinya, dinilai sebagai khurafat dan kebatilan yang ditolak akal sehat. Kesucian Nabi Yusuf dikukuhkan Allah dengan firman-Nya: "Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian (zina)." Ayat ini menjadi monumen agung bahwa bukan sekadar Yusuf yang menolak, melainkan Allahlah yang turun tangan memalingkan hamba-Nya dari kemungkaran, sebab Yusuf adalah bagian dari 'ibaadinal mukhlasyiin (hamba-hamba Kami yang disucikan).

Dari rentetan kawah candradimuka ini, kita belajar bahwa ujian dan cobaan, baik berupa penderitaan fisik maupun godaan syahwat yang melenakan, adalah jalan bagi jiwa-jiwa pilihan untuk membuktikan kualitas penghambaannya kepada Yang Maha Kuasa.