Artikel Keislaman


Edit

📄

Menyelami Samudra Keagungan Sang Kekasih: Dari Wanginya Peluh hingga Cahaya Bunda Aminah

Kajian Dakhair Muhammadiyah bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Mengulas tentang nazham Sheikh Amin Qutby tentang Orang Tua dan Sosok Nabi

Pernahkah kita sejenak merenung, duduk bersimpuh membayangkan sosok manusia yang namanya bersanding dengan nama Allah di 'Arsy? Kalau kita mau bicara soal Baginda Nabi Muhammad SAW, sungguh, akal kita ini terlalu sempit dan bahasa manusia terlalu kerdil untuk membedah khashaish (kekhususan) dan keagungannya. Ini bukan sekadar tokoh sejarah biasa, ini Sayyidul Wujud, pemimpin seluruh makhluk! Mari kita bedah perlahan-lahan keistimewaan beliau, agar cinta mahabbah di hati kita ini semakin mekar dan tak tergoyahkan.

1. Kesempurnaan Fisik yang Tak Tertandingi

Coba bayangkan, manusia biasa kalau bekerja keras, beraktivitas fisik, pastilah keringatnya bercucuran dan... ya, kita tahu sendirilah baunya. Tapi Baginda Nabi? Keringat beliau itu memancarkan aroma wangi yang luar biasa! Tanpa parfum, tanpa wewangian buatan. Saking wanginya, Sayyidah Ummu Sulaim, ibundanya sahabat Anas bin Malik, sampai sengaja menampung tetesan keringat Rasulullah SAW. Untuk apa? Untuk dijadikan campuran biang parfum terbaik! Bayangkan, keringatnya saja mengalahkan wewangian termahal di dunia.

Lalu perhatikan keistimewaan yang satu ini, yang membuktikan bahwa jasad beliau suci tak tersisa kotoran sedikit pun. Rasulullah SAW itu tidak pernah meninggalkan sisa kotoran buang hajat yang berbau atau nampak di permukaan bumi. Kenapa? Karena bumi seolah-olah "berebut" dan diperintahkan Allah untuk langsung menelannya seketika! Bumi tak rela jika kotoran kekasih Allah itu terlihat oleh mata manusia. Bahkan, ada riwayat luar biasa tentang Ummu Aiman (Barakatul Habasyiyah). Suatu malam, beliau kehausan dan tanpa sengaja meminum air dari sebuah wadah yang ternyata adalah air seni Rasulullah SAW. Saat Rasulullah mengetahuinya, apa sabda beliau? Beliau tidak marah, justru mengabarkan bahwa Ummu Aiman tidak akan pernah merasakan sakit perut seumur hidupnya! Subhanallah, apa yang keluar dari tubuh Nabi adalah obat dan keberkahan.

!

2. Kemuliaan Akar Sang Pohon Thayyibah: Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah

Coba bayangkan, sebuah pohon yang menghasilkan buah begitu sempurna, pantaskah kita meragukan pohon yang melahirkannya? Silsilah Rasulullah SAW itu dijaga ketat oleh Allah SWT. Nasab beliau bersih, suci, pindah dari sulbi-sulbi orang-orang yang ahli sujud, dan dijaga dari segala keburukan serta kehinaan zaman Jahiliyah. Ketika Siti Aminah binti Wahb mengandung janin manusia suci ini, Allah mulai menampakkan karomah yang luar biasa. Sayyidah Aminah itu bisa melihat cahaya yang terpancar dari perutnya, cahaya yang begitu benderang hingga mampu menerangi gedung-gedung dan istana di Kota Busro (Syam) yang jaraknya ratusan kilometer dari Makkah! Jarak yang begitu jauh ditembus oleh cahaya sang Nabi dari dalam rahim.

Lalu, masih adakah yang berani berprasangka buruk tentang keimanan kedua orang tua Nabi? Hati-hati menjaga lisan! Imam As-Suyuthi telah menyusun kerangka ilmu dan argumentasi yang sangat kuat. Ulama muhaqqiqin menegaskan bahwa keselamatan (najah) orang tua Nabi adalah sebuah kepastian. Allah SWT dengan kekuasaan-Nya menghidupkan kembali Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah di alam barzah agar mereka bisa mengikrarkan keimanan langsung kepada putra mereka secara mukjizat. Mereka berdua sekarang berada di Surga Firdaus. Ini akidah kita, akidah yang memuliakan kekasih Allah dan keluarganya!

3. Percikan Karomah Sahabat dan Mukjizat Sang Penutup Para Nabi

Keberkahan tubuh Nabi ini menular kepada siapa saja yang menyentuhnya dengan cinta. Antum tahu sahabat Abdullah bin Zubair? Beliau memiliki kekuatan fisik dan keberanian yang luar biasa tak tertandingi, terutama saat membela dan mempertahankan kota suci. Dari mana asal muasal kekuatan ini? Para ulama menghubungkannya dengan peristiwa saat beliau meminum darah bekas bekam Rasulullah SAW! Darah Nabi menyatu di aliran nadinya, melahirkan nyali dan kekuatan seorang pahlawan Islam sejati.

Dan mari kita lihat mukjizat air yang memancar dari jemari beliau. Di tengah teriknya padang pasir yang membakar, saat pasukan Islam yang berjumlah ribuan (sekitar 7.000 personel) kehausan dan terancam dehidrasi mati lemas. Apa yang dilakukan Baginda Nabi? Beliau cukup memasukkan tangan mulianya ke dalam sebuah wadah kecil, dan naba'a al-miyah air memancar deras dari sela-sela jari beliau! Bukan menetes, tapi memancar hingga cukup untuk diminum seluruh pasukan beserta ribuan hewan tunggangan mereka. Jemari siapa yang bisa mengalahkan sumur zam-zam di tengah gurun, selain jemari Rasulullah?

Puncak dari segala keagungan itu adalah peristiwa Isra' Mi'raj. Baginda Nabi diberangkatkan menembus batas-batas langit, mengelilingi seluruh penjuru semesta hingga naik ke Sidratul Muntaha. Di sanalah syariat shalat diturunkan. Menariknya, dalam perjalanan suci itu, Nabi Muhammad bertemu Nabi Musa AS yang memberikan saran agar kewajiban shalat 50 waktu dimintakan keringanan hingga akhirnya menjadi 5 waktu. Pertemuan dan dialog ini adalah bukti nyata, bukti konkret yang tak bisa dibantah, bahwa ada kehidupan yang hakiki di alam barzah. Para Nabi tidaklah mati seperti matinya kita, mereka hidup di sisi Allah SWT!

Mengagumi Rasulullah SAW bukan sekadar membaca sejarah, tapi mengalirkan cinta ke dalam setiap sel darah kita. Orang tua beliau mulia, tubuh beliau suci, keringatnya wangi, dan keberkahannya nyata hingga detik ini. Semoga kelak, mata kita yang penuh dosa ini diizinkan oleh Allah untuk menatap wajah beliau yang lebih terang dari bulan purnama, dan kita semua dikumpulkan di bawah panji syafaatnya.

Shallu 'alan Nabi!