PPSSNH Nurul Huda


Biografi singkat

KH. Drs. Achmad Masduqi Machfudh, lahir di Jepara tahun 1935 dan wafat di Malang pada tanggal 1 Maret 2014. Sambil menuntut ilmu di SGHA (Sekolah Guru dan Hakim Agama) di Yogyakarta, beliau mengaji di Pondok Pesantren Krapyak asuhan Yogyakarta KH. Ali Maksum.

Sejak 1957 mengajar di berbagai sekolah di Kalimantan, seperti di Tenggarong, Samarinda, dan Tarakan. Tahun 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang, sekaligus sebagai dosen Tadribul Qiraah (Bimbingan Membaca Kitab), bahasa Arab, akhlak, dan tasawuf.

Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasuh pesantren, beliau "melayani" pengajian di berbagai masjid di daerah Malang dan Jawa Timur terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh, dan kyai.

Pemahamannya terhadap kitab gundul sangat dalam, baik ketika dalam pembahasan masalah di forum Majlisul Bahtsi wal Muhadlaratud Diniyyah, kodifikasi hukum Islam, bahtsul masail, maupun tanya jawab hukum Islam pada majalah Aula. Sehingga jabatan Katib Syuriyah selama 15 tahun, Rois II Syuriyah sejak 1985, dan Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur hingga 2007 sangat tepat baginya.

Dinukil dari biografi singkat dalam buku Akhlak Tercela


Tenaga Pengajar

PPSSNH memiliki tenaga pengajar yang rata-rata berlatar belakang pendidikan strata satu dan dua dari perguruan tinggi terkemuka yang ada di kota Malang.

Semasa hayatnya KH. Drs. Achmad Masduqi Machfudh juga langsung membimbing santri melalui kajian rutin ba'da Subuh setiap hari.


Pendidik

Para pendidik pada Pesantren Nurul Huda ini adalah:

  1. K.H. Muhammad Taqiyyuddin Alawiy, MT
  2. K.H.DR.Isyroqunnajah Achmad, M.Ag
  3. Abdullah Zainur Rouf, M.Ag
  4. Bisri Musthofa, M.A
  5. KH.DR. Ahmad Muzakki
  6. K. Drs. Achwanuri.
  7. Drs. Fatah Rosuly
  8. Miftahul In'am, S.Ag
  9. Hafidz Nasrullah
  10. Ahmad Murtaqie,ST
  11. Nurrobbi, ST
  12. Achmad Shulhan al Hafidh
  13. KH.Shihabuddin Abdul Hafidh al Hafidh
  14. Achmad Shampton Masduqie, SHI
  15. K.H. Nur Ali Fauzi
  16. K.H. Muhammad Ismail
  17. Dra.Hj. Roudlatul Hasanah MPd
  18. Fauchatul Fithriyah, S.Ag, S.Psi
  19. Ida Fitria, SS
  20. Hj. Siti Arofah, S.Ag
  21. Hj. Badi'atus Shidqoh, S.Ag
  22. KH. Choirul Anam, ST
  23. Ismatuddiniyah al Hafidzoh
  24. KH. Abu Yazid alBustomi, MA
  25. Raudloh Quds Musthofa al Hafidhah

Biografi KH. Drs. Achmad Masduqie Machfudh

KH. Drs. Achmad Masduqie Machfudh dilahirkan di desa Saripan (Syarifan), Jepara, Jawa Tengah pada 1 Juli 1935. Di desa tersebut, terdapat sebuah makam kuno yang banyak dikenal orang dengan makam "Mbah Jenggolo". Alkisah, berkat karomah dari Mbah Jenggolo ini, dulu ketika baru ada radio, siapa saja yang membawa ke desa ini pasti gila. Penyakit gila ini baru akan sembuh kalau alat elektronik dikeluarkan dari Saripan. Keadaan seperti ini masih bisa ditemui semasa Kyai Masduqie masih kecil. Namun perlahan-perlahan seiring dengan perubahan zaman, karomah ini berangsur surut hingga hilang sama sekali. Melihat lingkungannya yang seperti itu, ditambah dengan lingkungan keluarga yang taat dan fanatik terhadap agama serta memiliki semangat juang yang tinggi untuk menegakkan kebenaran dan menyebarkan agama Allah.

Jalur Keturunan dari Ayah

Jika dilihat dari jalur keturunan ayah, tidak dapat diketahui secara rinci tetapi yang jelas seluruh keluarga beliau adalah termasuk orang-orang yang gigih berjuang dalam mensyiarkan agama Allah. Jalur keturunan ayah terputus hingga kakek beliau saja.Kakek beliau ini termasuk tokoh agama yang disegani di lingkungan masyarakat. Perjuangannya tidak hanya terhadap orang awam saja, melainkan kepada seluruh lapisan masyarakat bahkan yang jahat sekalipun. Beliau bahkan dengan gigih menaklukkan orang-orang jahat yang banyak berkeliaran saat itu. Beliau mampu mengubah pola tingkah laku mereka menjadi orang yang taat menjalankan agama Allah.Semangat jihad, fanatik dan ketaatan menjalankan agama serta keberanian membela kebenaran secara terus menerus ditempa dan ditekankan oleh Kyai Machfudh, dan Kyai Masduqie. Karena itu tidak heran bila sifat-sifat tersebut sangat melekat pada diri Kyai Masduqie dalam menegakkan agama Allah.

Jalur Keturunan dari Ibu

Bila ditelusuri dari garis keturunan ibu dapat dilihat dari Syeikh Abdullah al-Asyik Ibn Muhammad. Beliau adalah seorang Jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan beliau adalah setiap ada mara bahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk cukup dari rumahnya. Suara bedug terdengar ke seantero kerajaan Mataram. Pada makamnya yang terletak di daerah Tayu, Pati, tertulis "Makom niki dipun bangun Bagus Salman bongso jin" (makam ini dibangun oleh Bagus Salman bangsa Jin).Dari Syeikh Abdullah al-Asyik inilah menurunkan nenek KH. Achmad Masduqie Machfudh yaitu Nyai Taslimah. Di kalangan masyarakat, Nyai Taslimah sebagai seorang pewaris perjuangan Syeikh Abdullah al-Asyik Ibn Muhammad, dikenal sebagai seorang penyebar agama. Di tangannya tidak sedikit orang yang diislamkan. Mereka yang asalnya belum beragama dengan baik akhirnya menjadi santri Nyai Taslimah.Dari pernikahannya dengan Asmo Dul, Nyai Taslimah dikaruniai dua orang putri, yaitu Chafshoh dan Masyfu'ah. Beliau juga mengangkat seorang anak angkat yang bernama Suyuti.Putri beliau yang pertama; Chafsoh dipersunting oleh Machfudh, putra dari Bapak Arso Husein dengan Ibu Saumi. Dari pernikahan ini, keduanya dikarunia 14 putra-putri. Mereka adalah:

  1. Muainamah (Alm)
  2. Achmad Fahrurrazi (Alm)
  3. Khadijah (Alm)
  4. Achmad Masduqie (Alm)
  5. Sa'adah (Jepara)
  6. Achmad Said (Alm)
  7. Sofiyah (Alm)
  8. Achmad Shohib (Alm)
  9. Achmad Zahid (Malang)
  10. Achmad Masykuri (Alm)
  11. Ahmed Mas'udi (Jakarta)
  12. Aslihah (Malang)
  13. Achmad Zahri (Alm)
  14. Achmad Mujab (Jepara).

Dari keempat belas putra-putri Nyai Chafsoh ini, tujuh diantaranya meninggal dunia ketika masih kecil dan remaja. Kyai Masduqi merupakan putra keempat dan merupakan putra sulung yang hidup.

Kehidupan Keluarga KH. Achmad Masduqie Machfudh

KH. Achmad Masduqie Machfudh, terkenal sebagai seseorang yang dalam kehidupan sehari-hari cukup sederhana. Corak kehidupan keluarga yang beliau bangun sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang dicitrakan Kyai Machfudh sangat membias pada keluarga Kyai Masduqie. Terlebih sejak kecil, Kyai Masduqie sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidup beliau adalah:

"Kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan teraih."

Dari hasil pernikahannya dengan Nyai Chasinah putri dari KH. Chamzawi Umar pada 7 Juli 1957 dalam usia 22 tahun, beliau dikaruniau 9 orang anak, yaitu:

  1. Mushoddaqul Umam, S.Pd dilahirkan di Tarakan, Kalimantan Timur, tanggal 21 Juli 1958. Saat ini kediamannya di Jl. Danau Kerinci IV, E-15, Malang. Disamping kesibukan sehari-hari menjadi Kepala Sekolah SMAN 1 Tugu, Malang dan pengajar pada Jurusan Bahasa Inggris Universitas Islam Malang, Sarjana strata dua bahasa Inggris yang pernah mondok di Pesantren Roudlotul Tolibin Rembang ini, juga merintis majlis Ta'lim untuk orang tua dan siswa SD, SMP, SMU dan Mahasiswa; pengajian padang ati.
  2. Muhammad Luthfillah, MM, dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah pada tanggal 28 Oktober 1959. Sarjana Ekonomi dari UNIBRAW yang sebelumnya menempuh pendidikan di Pesantren Roudlotul Tolibin Rembang ini, berpengalaman sebagai pengurus PP.Pagar Nusa dan anggota DPRD Jatim dari fraksi FKB. Setelah itu ia lebih banyak berkecimpung di masyarakat untuk memberikan pengajian dan pembimbing jamaah haji khusus dan umrah "Mabruro" yang berpusat di Sidoarjo, Jawa Timur.
  3. dr. Moch. Shobachun Niam, MKes, FINACS, SpB-KBD. Dilahirkan di Samarinda, Kalimantan Timur pada 25 Agustus 1961. Setelah menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, ia sempat menjadi dokter di Jakarta, lalu dinas di daerah kepulauan sekitar Madura. Setelah mengambil bidang spesialisasi "bedah" ia berdinas di RSU Polmas/Poliwali Mamasa, Sulawesi Selatan (sekarang Poliwali Mandar, Sulawesi Barat). Alumnus Pesantren Roudlotut Tholibin Rembang ini juga pernah menjadi pengurus wilayah NU Sulawesi Selatan ketika masih berdinas di Polmas. Sejak tahun 2004 ia pindah ke Malang dan sebagai dokter di RS Saiful Anwar, Malang. Selain itu, ia juga sebagai dokter di rumah sakit Persada dan rumah sakit Lavalette di Malang. Setelah menyelesaikan studinya sebagai spesialis bedah, ia juga belajar lagi sebagai konsultan di bidang digestive surgery di Universitas Padjadjaran, Bandung. Sharing ilmu di bidang ilmu kedokterannya dilakukan dalam acara pertemuan di dalam negeri dan di berbagai negara.
  4. M. Taqiyyuddin Alawiy, MT, dilahirkan di Malang pada 8 April 1963. Setelah menyelesaikan studi di Pesantren al-Anwar Sarang, Rembang, ia meneruskan studi di Fakultas Tehnik UNISMA Malang pada strata satu. Selanjutnya ia belajar bidang electrical engineering pada Universitas Brawijaya, Malang. Saat ini, disamping menjadi dosen di UNISMA Malang, ia juga menjadi Rais Syuriah MWC Kedung Kandang, Malang. Pemahamannya di bidang kitab kuning cukup bagus. Sepeninggal KH Drs. Achmad Masduqie Machfudh, ia diangkat sebagai Koordinator Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda Malang.
  5. Dra. Roudlatul Hasanah, M.Pd., dilahirkan di Malang pada 8 Maret 1965. Setelah mondok di Pesantren Tambakberas, Jombang, ia belajar dan memperoleh gelar Sarjana Bahasa Inggris di IAIN Malang (sekarang Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang). Ia sebagai guru negeri di MTsN Sepanjang, Gondanglegi, Malang. Beberapa tahun setelah itu ia meneruskan pendidikannya jenjang strata dua di Universitas Negeri Malang. Dalam kesehariaannya ia mengajar di MTSN Sepanjang, Gondalegi, Malang dan perguruan tinggi swasta di Gondanglegi, Malang, selain menjadi salah seorang tenaga pengajar pada Pesantren Nurul Huda Malang.
  6. Dr. Muhammad Isyroqun Najach, dilahirkan di Malang pada 18 Februari 1967, menyelesaikan studi S-1 di STAIN Malang (sekarang Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang), S-2 PPS IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; dan S-3 di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini, disamping menjadi Pembantu Rektor III UIN Malang, juga menjadi Ketua PCNU Kota Malang, dan anggota Dewan Riset Daerah Pemerintah Kota Malang. Pemahaman di bidang kitab kuning tidak diragukan lagi, termasuk komunikasi dalam bahasa Arab. Karena itu tidak ayal lagi jika ia sering melakukan kunjungan ke luar negeri terutama yang berbasis bahasa Arab seperti ke Iran dan Sudan. Selain sebagai tenaga pengajar pesantren, ia juga sebagai Wakil Koordinator Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda, Malang.
  7. Dra. Badiatus Shidqoh, dilahirkan di Malang pada 11 April 1968. Ia lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang tahun 1992 jurusan Pendidikan Agama. Alumnus Pesantren Tambakberas Jombang tahun 1984 ini menjadi tenaga pengajar pada STIE Malangkucecwara Malang. Dalam kepengurusan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda Malang, ia diserahi bidang ta'lim diniyyah.
  8. Fauchatul Fithriyyah. S.Ag. Dilahirkan di Malang pada 25 Agustus 1970, memperoleh gelar sarjana di STAIN Malang (sekarang Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang) setelah sebelumnya mondok di PP. Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jateng. Ia mengelola beberapa TPQ binaan Pesantren Nurul Huda, juga menjadi tenaga pengajar pada Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah  Nurul Huda Malang dan terlibat di bidang ta'lim diniyyah.
  9. Achmad Shampton, SHI. dilahirkan di Malang pada 23 April 1972. Selepas SMP, ia mondok di Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri lulus tahun 1995. Alumni Madrasah Aliyah Miftahul Huda Ngreco, Kandat, Kediri tahun 1994 ini melanjutkan studi di STAIN Malang (sekarang Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang), memperoleh gelar sarjana pada jurusan syariah tahun 2002. Saat ini menjadi khodim Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda, Malang dan terlibat di bidang ta'lim diniyyah. Aktivitas kesehariannya adalah sebagai Kepala Seksi PD Pontren Kemenag Kota Malang. 

Sebelum memasuki dunia perkuliahan seluruh putra dan putri beliau tanpa kecuali diharuskan mengenyam pendidikan di pesantren. Ini merupakan prinsip yang ditanamkan Kyai Masduqie pada putra putrinya. Dari pengalaman mengaji di pesantren ini, meskipun background pendidikan putra putri beliau beragam, mereka mampu menjalankan amanah dakwah di tengah-tengah masyarakat. Kesembilan putra putri beliau sekarang secara bersama-sama meneruskan perjuangan beliau dalam membina PPSSNH (Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda) Malang. Pada haul beliau yang pertama, diselenggarakan tanggal 28 Februari 2015, mereka "dibenum" dalam perangkat pesantren.

Pelindung

 

  • Yayasan PPSSNH

 

Penyantun

 

  • A. Faqih Koesoema
  • Ahmad Zahid Machfudh
  • Ahmed Mas'udi Machfudh
  • Achmad Mudjab Machfudh
  • Prof. DR. Ahmad Sodiki, SH
  • Mushoddaqul Umam, M.Si

 

A'wan 

 

  • KH. Marzuqi Mustamar, M. Ag.
  • K. Achwanuri
  • K. Abdullah Z. Rouf, M. HI.
  • KH. DR. A. Muzakki, MA.

 

Dewan Pengasuh

  • Koordinator M. Taqiyuddin Alawiy, MT
  • Wakil Koordinator DR. Muhammad Isyroqun Najach.
  • Bidang Humas
    • M. Luthfillah, MM,
    • Dr. Muhammad S. Niam, MKes, FINACS, SpB-KBD
    • Dra. Imaroh (isteri dr. Muhammad S. Niam)
  • Bidang Ta'lim Diniyah
    • Nur Ali Fauzi dan isterinya (Roudlatul Hasanah, M.Pd.)
    • Dra. Badiatus Shidqoh dan suaminya (Musthofa Rodli)
    • A. Shampton, S. HI
    • Arofah, S. Ag (isteri M. Taqiyyuddin Alawy, MT)
    • Fauchatul Fitriyah, S. Ag.
  • Bidang Ta'lim al-Qura
    • al-Hafidh Syihabuddin (suami Fauchatul Fitriyah, S.Ag.)
    • al-Hafidhah Roudloh Quds (isteri A. Shampton, S.HI)
    • al-Hafidhah Ismatud Diniyah (isteri Dr. Isyroqun Najah)

Pendidikan Formal

KH. Achmad Masduqie Machfudh terlahir di tengah-tengah keluarga religius yang taat dan fanatik terhadap agama Islam. Sejak kecil beliau sudah dihiasi dengan tingkah laku, sikap dan pandangan hidup ala santri. Karena itu pula, Kyai Machfudh, orang tua beliau, tidak menghendaki Kyai Masduqie kecil untuk bersekolah di sekolah umum, cukup di sekolah agama saja.Tetapi larangan orang tua ini tidak mematahkan semangat Kyai Masduqie kecil untuk mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan yang tidak terbatas hanya di bidang agama saja. Dengan semangat tinggi, Kyai Masduqie menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri dengan menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan yang lain tanpa sepengetahuan orang tuanya sendiri.Adapun pendidikan formal yang telah beliau selesaikan antara lain:

  1. Sekolah Rakyat di Jepara, 1942 - 1948
  2. SMP di Jepara, 1950 - 1953
  3. Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) di Yogyakarta, 1953 - 1957
  4. IAIN Sunan Ampel Malang, sampai tingkat bachelor degree 1962 - 1966
  5. IAIN Sunan Ampel Malang (program doktoral) 1975 - 1977

Dengan ketekunan, keuletan dan semangat juang yang tinggi, Kyai Masduqie akhirnya mampu meraih berbagai macam ilmu pengetahuan baik di bidang agama maupun pengetahuan umum.

Pendidikan Non-Formal

KH. Achmad Masduqie Machfudh sejak berusia 5 tahun tepatnya pada tahun 1939 sudah belajar di madrasah ibtidaiyah di kampungnya yang pada waktu itu dikenal dengan istilah "Sekolah Arab", karena pelajarannya lebih banyak berbahasa arab. Beliau belajar di sekolah ini selama kurang lebih lima tahun yaitu dari tahun 1939-1944. Beliau mulai mempelajari dasar-dasar berbahasa arab dan agama Islam.Setelah beliau menyelesaikan sekolahnya dan mempunyai dasar yang cukup, beliau meneruskan belajar di pondok pesantren Jepara. Di sini beliau belajar kurang lebih selama 8 tahun, yakni dari tahun 1945 - 1953, dan menyelesaikan Madrasah Tsanawiyah pondok selama 3 tahun.Pondok pesantren Jepara ini diasuh oleh Kyai Abdul Qadir. Di sini beliau belajar ilmu-ilmu alat yakni nahwu dan shorof, fiqih, tauhid dan lain-lain. Karena beliau belajar di sini sudah cukup lama, maka tidak heran jika ilmu-ilmu tersebut sedikit banyak telah beliau kuasai.Setelah menyelesaikan pelajarannya di pondok pesantren Jepara, beliau masih merasa belum cukup ilmu pengetahuan agamanya, dan akhirnya beliau pergi untuk belajar di Pondok Pesantren Krapyak pimpina K.H. Ali Ma'shum, sambil menyelesaikan studi SGHA (Sekolah Guru dan Hakim Agama).

Wafat

KH. Achmad Masduqie Machfudh wafat pada hari Sabtu tanggal 1 Maret 2014/28 Rabi'ul Akhir 1434H di usia 78 tahun setelah dirawat beberapa hari di RS Saiful Anwar, Malang. Meskipun saat dirawat di rumah sakit beliau sempat mengalami koma dan sudah berangsur membaik, namun Allah berkehendak untuk memanggil beliau. KH. Achmad Masduqie Machfudh dimakamkan pada hari Ahad 2 Maret 2014/29 Rabi'ul Akhir 1434H di lingkungan Pesantren Nurul Huda.

 


Dari Terong Gosong: Santri Kuper (Sorogan)

Tulisan Yahya C. Staquf yang menyebut tentang kisah pengasuh PPSSNH saat mondok di Krapyak

Aku heran dengan cara Mbah Ali mendidikku. Pada mulanya aku disuruh sorogan Ta’limul Muta’allim. Belum sampai khatam sudah disuruh ganti Taqrib. Baru selesai bab Haji disuruh ganti kitab lain lagi. Begitu seterusnya aku gonta-ganti kitab tanpa satu pun mengkhatamkannya. Rasanya manfaat yang kuperoleh bukan terutama dari kitab yang kubaca, tapi karena sering memandangi wajah Mbah Ali saja.

Kiyai A. Masduqi Machfudh (Pengasuh PPSSNH Malang) –sekarang Rais Syuriyah PBNU, menceritakan bahwa Mbah Ali memiliki maziyah (keistimewaan) bisa mentransfer ilmu tanpa mengajar secara verbal. Pada waktu pertama kali datang ke Krapyak –mungkin sekitar tahun 50-an atau 60-an, Santri Masduqi diajak mengikat janji oleh Mbah Ali,

“Kalau kamu sanggup tinggal di pondok nggak pulang-pulang sampai tiga tahun penuh, kujamin kamu akan jadi lebih ‘alim ketimbang yang sudah mondok 15 tahun tapi bolak-balik pulang”, begitu akadnya.

Santri Masduqi benar-benar melaksanakan akad itu. Pada akhir tahun ketiga, barulah ia pamit pulang.

Sebelum mengijinkan, Mbah Ali meraih tangan Santri Masduqi dan membawanya ke meja makan.

“Ayo makan bareng aku”, kata beliau.

Tapi ketika Santri Masduqi hendak meraih centong nasi, Mbah Ali melarangnya,

“Kamu duduk saja!” lalu tanpa terduga beliau mengambilkan nasi untuk santrinya itu, meladeninya dengan sayur dan lauk-pauk hingga minuman sesudah makan, seolah Mbah Ali-lah yang menjadi khadam.

“Sejak saat itu”, kisah Pakdhe Masduqi, “tak ada kitab yang sulit bagiku. Setiap ada lafadh yang tak kuketahui maknanya, seperti ada yang membisiki telingaku, memberi tahu artinya…”

Aku percaya pada Pakdhe Masduqi, walaupun barangkali beliau menceritakan ini sekedar untuk membesarkan hatiku ketika beliau ta’ziyah meninggalnya ayahku. Mungkin juga aku percaya karena terdorong ketidakpahamanku akan metode pendidikan Mbah Ali. Setiap santri seolah diperlakukan khusus, dengan cara yang berbeda dari lainnya. Sepupuku yang sekamar denganku tidak cukup disuruh menulis saja. Ia diperintahkan ngeblad tulisan kitab. Santri lain disuruh mengumpulkan maqolah-maqolah dari berbagai kitab. Seorang santri baru malah diperlakukan dengan “sangat demokratis”.

“Kamu sorogan ya, Nak”, kata Mbah Ali kepada anak yang baru lulus SD itu.

“Sorogan itu apa, Mbah?”

“Setiap habis shubuh kamu baca kitab didepanku”, Mbah Ali sabar.

“Kitab itu apa, Mbah?” Kuper nian anak itu.

“Kitab itu ya buku”.

“Yang dibaca buku apa?”

“Terserah kamu…”

Pagi itu, ditengah membaca kitabku dihadapan Mbah Ali yang dirubung santri-santri, aku kaget oleh suara lantang anak baru disebelahku,

“Pulau Buton menghasilkan aspal…!”

Kulirik “kitab” yang dipegangnya: PELAJARAN GEOGRAFI KELAS I SMP!

Judul asli: Santri Kuper: Sorogan
Dalam kumpulan artikel 'unik' Komunitas Terong Gosong yang digagas oleh mantan juru bicara Presiden RI era Abdurrahman Wahid, Yahya C. Staquf


Galeri Foto

Foto tokoh-tokoh tamu yang mengisi pengajian maupun kegiatan pengasuh dan pengajar Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Nurul Huda.


KH. Masduqi Machfudz dan Ust. Muhammad Sulaiman dari Libanon murid Syaikh Harori Libanon, silaturahim ke rumah untuk meminta ijazah ammah keilmuan dan diskusi tentang Wahabiyah di Indonesia dan Libanon.


KH. Masduqi Machfudz dalam acara Haflah Akhirussanah PPSSNH di bulan Syawal 1431H.


KH. Masduqi Machfudz duduk berdampingan di atas podium bersama Gus Dur dalam suatu acara


KH. Masduqi Machfudz, pengasuh PPSSNH mengakadkan Nada Fatma, putri ke-5 KH. A. Mustofa Bisri, disaksikan Gus Dur dan KH. Cecep Saifuddin (pengurus PBNU) pada 11 Agustus 2007 lalu


Ida Fitri, santriwati PPSS Nurul Huda mewakili provinsi Jawa Timur dalam Lomba Baca Kitab Tingkat Nasional di Lirboyo Kediri


Alfan Muslihuddin, santri PPSS Nurul Huda mewakili kota Malang dalam Lomba Baca Kitab Antar Pesantren se-Jawa Timur


Suasana Majlis Ta'lim Padang Ati yang dipusatkan di kediaman Gus Mushoddaq


KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), budayawan nasional ketika memberikan mauidzoh hasanah pada akhirussanah pondok pesantren tanggal 17 Juli 2005


Habib Husein Bin Alwy Ibn Aqiel dan H. Mushoddaqul Umam, (Habib Husein Ibn Alwy Ibn Aqiel ketika mengisi di Majlis Taklim Jam'iyyah Padang Ati yang diasuh oleh H. Mushoddaqul Umam, ketua Yayasan Nurul Huda


Habib Hadi Al Kaff pada Majlis Taklim Jam'iyyah Padang Ati PP Nurul Huda, Sawojajar Malang


(Kedua dari kanan, jaket coklat), Ust. H. Isyroqunnajah, M.Ag, sekretaris Yayasan Nurul Huda, kandidat doktor di IAIN Sunan Ampel Surabaya, ketika berkunjung di Singapura


(Kedua dari kiri, berkacamata gelap) Pengasuh PP Nurul Huda, KH. A. Masduqi Machfudz, berdampingan dengan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada Istighatsah Akbar PWNU Jawa Timur di Lapangan Kodam V Brawijaya, Surabaya, 2002


Kisah Keajaiban Salawat yang Dialami KH Masduqi Machfudh

Ditulis oleh Indirijal Lutofa, Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Nurul Huda Mergosono, Malang dan mahasiswa Fakultas Syari’ah UIN Malang. Kisah ini diperoleh pendengaran langsung penuturan Kiai Masduqie saat memberikan pengajian di Majlis Ta'liim wal Maulid Riyadhul Jannnah Malang, Jawa Timur dan kisah yang dituturkan putranya. Dimuat juga di NU Online.

Shalawat dan shalat jamaah adalah dua “senjata” Achmad Masduqi Machfudh. Tiap menerima aduan masalah dari masyarakat, ia selalu berwasiat untuk membaca shalawat, minimal 1000 kali setiap hari dan 10.000 kali setiap malam Jum’at.

Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015 yang juga pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Nurul Huda Mergosono Malang ini memiliki pengalaman menarik tentang shalawat Nabi, tepatnya pada tahun 1956, saat ia masih duduk di sebuah SLTA di Yogjakarta.

Suatu ketika, ia mendapat gangguan jin di sebuah masjid tempat belajarnya sehingga selama tiga hari Maduqie muda merasa ingin banyak makan tapi anehnya tidak bisa buang hajat. Di hari ke empat, tubuhnya pun sangat panas dan saat itu juga beliau berpesan kepada adiknya.

“Dik, nanti kalau aku mati, tolong jangan bawa pulang janazahku ke Jepara tetapi dikuburkan di Jogja saja.”

Pinta kiai yang wafat pada 1 Maret 2014 ini kepada sang adik. Kiai Masduqie datang ke Jogja berniat untuk mondok. Beliau khawatir syahidnya hilang jika wafat di Jogja namun jenazahnya dimakamkan di Jepara.

Sontak saja adiknya semakin khawatir kondisinya. Maka diajaklah sang kakak menemui seorang seorang kiai.

"Mari kita pergi ke kiai itu, kiai yang Mas biasa ngaji di hari Ahad."

Kiai Masduqie menerima ajakan adiknya. Pergilah beliau bersama adiknya dengan naik becak dan sampai di rumah pak kiai yang dimaksud pada pukul satu malam. Ketika beliau datang, pintu rumah Pak Kiai masih terbuka. Tentu tengah malam itu sang tuan rumah sudah tidak melayani tamu, karena sejak pukul 10 malam adalah waktu khusus Pak Kiai untuk ibadah kepada Allah. Karena melihat Masduqie muda yang datang di tengah malam dengan keadaan payah, kiai pun mempersilahkan Masduqie muda beristirahat di rumah.

Masduqie muda pun tertidur di rumah kiai itu. Baru beberapa jam di rumah kiai, tepatnya pukul 3 malam, beliau terbangun karena merasa mulas ingin buang hajat. Setelah itu, rasa sakit dan panas yang dirasakan sedikit hilang.

Pada pagi harinya, beliau yang masih panas badannya bertemu dengan Pak Kiai.

"Pak Kiai, saya sakit”.

Bukannya merasa iba, Pak Kiai hanya tersenyum. Dan anehnya, rasa panas yang beliau rasakan hilang seketika itu.Pak Kiai dawuh,

"Mas, sampean gendeng mas.”

“Kenapa gendeng, Yai?” tanya Masduqie muda.

"Iya, wong bukan penyakit dokter, sampean kok bawa ke dokter, ya uang sampean habis. Pokoknya kalau sampean kepengin sembuh, sampean tidak boleh pegang kitab apapun,” jawab kiai.

Jangankan membaca, menyentuh saja tidak diperbolehkan. Padahal pada saat itu, Masduqie muda dua bulan lagi akan mengikuti ujian akhir sekolah.

“Yai, dua bulan lagi saya ujian, kok enggak boleh pegang buku,”

Masduqie muda matur kepada Pak Kiai.

Seketika itu Pak Kiai menanggapinya dengan marah-marah,

“Yang bikin kamu lulus itu gurumu? Apa bapakmu? Apa mbahmu?”

Masduqie muda menjawab,

“Pada hakikatnya Allah, Yai.”

“Lha iya gitu!” timpal Pak Kiai.

“Lalu bagaimana syariatnya (upaya yang dilakukan), Yai?” tanya Masdqie muda lagi.

“Tiap hari, kamu harus baca shalawat yang banyak,” jawab, Pak Kiai.

Masduqie muda kembali bertanya,

“Banyak itu berapa, Yai?”

Pak Kiai pun menjawab,

“Ya paling sedikit seribu, habis baca 1000 shalawat, minta ‘dengan berkat shalawat yang saya baca, saya minta lulus ujian dengan nilai bagus".

Ya sudah, Masduqie muda tidak berani pegang kitab maupun buku, karena memang ingin sembuh. Mendengar cerita dari Masduqie muda, Paman beliau marah-marah.

“Bagaimana kamu ini? Dari Jepara ke sini, kamu kok nggak belajar?”

Masduqie muda tidak berani komentar apa-apa. Karena beliau menuruti  dawuh kiai untuk tidak menyentuh kitab atau buku, beliau nurut saja.

Menjelang beliau ujian, pelajaran bahasa Jerman, bukunya ternyata diganti oleh gurunya dengan buku yang baru. Karena masih dilarang menyentuh buku, maka beliau tetap taat titah kiai.

Setelah ujian, Masduqie muda dipanggil guru bahasa Jerman.

Pak Guru    : Kamu her.

Masduqie   : Berapa nilai saya pak?

Pak Guru    : Tiga!

Masduqie    : Iya, Pak. Kapan, Pak?

Pak Guru    : Seminggu lagi 

Namun setelah seminggu, Masduqie muda tidak langsung mendatangi guru bahasa Jerman, karena larangan pegang buku belum selesai. Baru setelah selesai, Masduqie muda mendatangi Pak Guru.

Masduqie    : Pak, saya minta ujian, Pak.

Pak Guru    : Ujian apa?

Masduqie    : Ya ujian bahasa Jerman, Pak.

Pak Guru    : Lha kamu bodoh apa?

Masduqie    : Lho kenapa, Pak?

Pak Guru    : Nilai delapan kok minta ujian lagi. Kamu itu minta nilai berapa?

Masduqie    : Lho, ya sudah Pak, barang kali bisa nilai sepuluh.

Dari nilai angka 3, karena shalawat, mingkem menjadi angka 8. Setelah itu, beliau tidak pernah meninggalkan baca shalawat. Itulah satu pengalaman shalawat KH Masduqie Mahfudz saat muda.

Wasilah untuk Atasi Penyakit dan Kesulitan

Pengalaman shalawat beliau lagi, yakni ketika Kiai Masduqie harus melaksanakan dinas dinas di Tarakan, Kalimantan Timur. Pada suatu hari, ada tamu pukul 5 sore, dan bilang ke Kiai Masduqie,

"Saya disuruh oleh ibu, disuruh minta air tawar.”

Kiai Masduqie mengaku masih bodoh saat itu. Seketika itu ia menjawab,

"Ya, silakan ambil saja, air tawar. kan banyak itu di ledeng-ledeng itu."

"Bukan itu, Pak. Air tawar yang dibacakan doa-doa untuk orang sakit itu, Pak," kata si tamu.

"Oh, kalau itu ya tidak bisa sekarang. Ambilnya harus besok habis shalat shubuh persis."

Kiai Masduqie menjawab begitu karena beliau ingin bertanya kepada sang istri perihal abah mertua yang sering nyuwuk-nyuwuk (membaca doa untuk mengobati) dan ingin tahu apa yang dirapalkan. Ternyata istri beliau tidak tahu tentang doa yang dibaca abahnya di rumah. Padahal Kiai Masduqie sudah janji.

Habis isya’ saat beliau harus wiridan membaca Dalail, beliau menemukan hadits tentang shalawat. Inti hadits tersebut kurang lebih,

“Siapa yang baca shalawat sekali, Allah beri rahmat sepuluh. Baca shalawat sepuluh, Allah beri rahmat seratus. Baca shalawat seratus, Allah beri rahmat seribu. Tidak ada orang yang baca shalawat seribu, kecuali Allah mengabulkan permintaanya.”

Setelah mencari di berbagai kitab, ketemulah hadits tersebut sebagai jawabannya. Lalu belaiu pun bangun di  tengah malam, mengambil air wudlu dan air segelas, setelah itu membaca shalawat seribu kali. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidinâ Muhammad.

Setelah beliau selesai membaca seribu shalawat, beliau berdoa,

”Allahumaj’al hadzal ma’ dawâ-an liman syarabahu min jamî’il amrâdh”.

Arti doa tersebut,

“Ya allah, jadikanlah air ini sebagai obat dari segala penyakit bagi peminumnya”.

Lalu meniupkan ke air gelas dan baca shalawat satu kali lagi. Di pagi hari, diberikanlah air tersebut kepada orang yang memintanya.

Setelah tiga hari, ada berita dari orang tersebut bahwa si penderita penyakit sudah sembuh setelah meminum air dari Kiai Masduqie. Padahal, sakitnya sudah empat bulan dan belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Dokter pun sudah tidak sanggup menangani penyakit yang diderita orang ini dan menyarankan untuk mencari obat di luar. Anehnya, pemberi kabar itu mengatakan bahwa Kiai Masduqie selama tiga hari itu mengelus-elus perut orang yang sakit.

Mengelus-ngelus perut? Tentu saja tidak, apalagi si penderita penyakit adalah perempuan yang bukan mahramnya. Hal itu juga mustahil karena Kiai Masduqie selama tiga hari di rumah saja. Berkat shalawat, atas izin Allah penyakitnya sembuh.

Sejak peristiwa itu di Kalimantan timur Kiai Masduqie terkenal sebagai guru agama yang pintar nyuwuk. Sampai penyakit apa saja bisa disembuhkan. Jika beliau tidak membacakan shalawat, ya istri beliau mengambilkan air jeding, yang sudah dipakai untuk wudlu. Ya sembuh juga penyakitnya. Inilah pengalaman shalawat Kiai Masduqie ketika dinas di Kalimantan.

Cerita lain, suatu ketika beliau harus ke Samarinda dengan naik kapal pribadi milik Gubernur Aji Pangeran Tenggung Pranoto. Dalam pertengahan perjalanan melalui laut, tepatnya di Tanjung Makaliat kapal yang diinaikinya terkena angin puting beliung. Maka goyang-goyanglah kapal tersebut. Kiai Masduqie sadar, berwudlu, lalu naik ke atas kapal. Beliau ajak para awak kapal untuk mengumandangkan adzan agar malaikat pengembus angin dahsyat tersebut berhenti. Lalu berhentilah angin tersebut. Inilah salah satu pengalaman shalawat Kiai Masduqie.

“Kalau ada orang menderita penyakit aneh-aneh, datang ke Mergosono, insya Allah saya bacakan shalawat seribu kali. Kalau ndak mempan sepuluh ribu kali, insyaallah qabul,” kata Kiai Masduqie saat pengajian di Majelis Riyadul Jannah.

“Berkat shalawat Nabi, sampean tahu sekarang, saya bangun pondok sampai tingkat tiga, nggak pernah minta sokongan dana masyarakat, mengedarkan edaran, proposal nggak pernah. Modalnya hanya shalawat saja. Uang yang datang ya ada juga, tapi nggak habis-habis. Itu berkat shalawat,” lanjut Kiai Masduqie dalam pengajiannya.

Kisah lainnya, suatu ketika, seorang bidan mengadu kepada Kiai Masduqie tentang suaminya yang pergi meninggalkannya karena terpikat dengan wanita lain. Ia berharap suaminya bisa kembali. Abah, demikian para santrinya menyapa, menjawab bidan tersebut dengan tegas menganjurkan untuk baca shalawat. Bidan pun secara istiqamah mengamalkannya, dan dalam selang beberapa lama suaminya kembali seraya bertobat.

Kiai Masduqie memiliki sembilan putra/putri ini yang di samping sarjana juga bisa membaca kitab semua. Saat anak beliau ada yang mau ujian, di samping putranya juga disuruh baca shalawat, belaiu juga membacakan shalawat untuk kelancaran dan kesuksesan putra-putrinya.

Kiai Masduqie pernah dawuh,

”Berkat shalawat Nabi SAW, semua yang saya inginkan belum ada yang tidak dituruti oleh Allah. Belum ada permintaan yang tidak dituruti berkat shalawat Nabi. Semua permintaan saya terpenuhi berkat shalawat”.

Shallu ‘alan Nabi Muhammad! Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad.