Bahtsul Masail Diniyah


Status Hukum Keharusan Pembacaan Terjemah

Soal
Bagaimana status hukum keharusan pembacaan terjemah (salinan arti kedalam bahasa selain bahasa wahyu) mengiringi bacaan surat al fatihah dan surat pilihan dalam sholat berjamaah baik oleh imam maupun makmum ?

Jawaban

Sholat itu adalah tergolong ibadah mahdlah (murni) yang berdimensi melambangkan pendekatan diri yang murni dari seorang hamba kepada Tuhannya. Dan dalam pelaksanaannya harus mengacu kepada pedoman yang disyari’atkan Allah, baik melalui Al Quran maupun peragaan sunnah amaliyah oleh Rasulullah (Amrun Tauqiifiy) . Sehingga cara baku yang diperagakan Rasulullah saw setiap kali sholat harus dijadikan pedoman oleh segenap umat, termasuk gerak-gerik (hai’ah) dan bacaan Al Quran maupun redaksi doanya.

Dengan demikian mengharuskan pembacaan terjemah mengiringi bacaan al fatihah atau surat pilihan tergolong perbuatan “Bid’ah Haqiqiyah“ (Bid’ah yang nyata) atau “Bid’ah Dhalalah” (Bid’ah sesat dan tertolak) karena tidak ada petunjuk dalil syar’i, terutama sunnah amaliyah dari Rasulullah saw.

Dasar Pengambilan

Al Quran Surat Al Hasyr : 7

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Dan apa jua perintah yang dibawa oleh Rasulullah (s.a.w) kepada kamu maka terimalah serta amalkan, dan apa jua yang dilarangNya kamu melakukannya maka patuhilah laranganNya. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah amatlah berat azab seksaNya (bagi orang-orang yang melanggar perintahNya).

Nailul Awthar Juz 2 hal. 146 :

وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلُّوْا كَمَا رَأَيْـتُمُوْنِيْ أُصَلِّي (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ)

Diriwayatkan dari Malik : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Sholatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihatku melakukannya. (HR. Ahmad dan Bukhori)

Riyadhus Sholihin hal. 62 :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذَا مَالَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dari Aisyah ra., ia berkata, Rasulullah saw bersabda; Barang siapa mengadakan sesuatu yang baru dalam urursanku (yakni agama ini) yang bukan dari agama maka ia ditolak. (HR. Bukhori-Muslim)

I’anathut Thalibin Juz 1 hal 313 :

وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي فَتْحِ الْمُبِيْنِ فِي شَرْحِ قَوْلِهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذَا مَالَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ) مَا نَصُّهُ : قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا اَحْدَثَ وَخَالَفَ كَِتَابًا أَوْسُنَّةً أَوْ إجْمَاعًا أَوْ أَثَرًا فَهُوَ الْبِدْعَةُ الضَّالَةُ.

Ibnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Mubin dalam menjelaskan sabda Rasulullah saw (Barang siapa membuat baru dalam urursanku yakni agama ini yang tidak ada di dalamnya urrusanku maka ia tertolak) dengan teks berikut ini : As Syafi’i ra. berkata ; Sesuatu baru yang diadakan dan menyalahi Al Quran atau Sunnah atau Ijma’ atau Atsar (perkataan shahabat) maka ia dinamakan Bid’ah Dhalalah.

Manhaj as Salaf fi Fahmi an Nushus baina an Nadhariyah wa Tathbiq, hal 430 :

وَمِنْ هذِهِ الْقَوَاعِدِ الْجَامِعَةِ قَاعِدَةُ الْعِباَدَاتِ وَهِيَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لاَ يُعْبَدُ إِلاَّ بِمَا شُرِّعَ وَلِذلِكَ كَانَتِ الْعِبَادَاتُ كُلُّهَا تَوْقِفِيَّةٌ لاَ تُعْلَمُ إِلاَّ مِنْ جِهَةِ اللهِ تَعَالَى.

Dan termasuk kaidah-kaidah yang menyeluruh yaitu kaidah ibadah. Yaitu bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak disembah kecuali dengan hal-hal yang telah disyariatkan. Oleh karena itu setiap ibadah bersifat Tauqifiyyah (mengikuti ketentuan dan tata cara yang telah ditetapakan syariah) yang tidak diketahui kecuali dari petunjuk Allah SWT.