Bahtsul Masail Diniyah


Cara istinja’ bagi wanita

Ada seorang perempuan bertanya kepada saya, katanya dia pernah mendengarkan pengajian yang menjelaskan tentang masalah istinja’ (bersuci dengan batu).

  1. Istinja’ itu apakah khusus orang laki-laki, waktu itu kiai menerangkan masalah orang laki-laki saja, sedangkan perempuan tidak diterangkan.
  2. Kalau umpamanya perempuan ber-istinja’, lantas bagaimana caranya?
  3. Saya mempunyai kaset yang di dalamnya berisi rekaman al Quran.
    1. Apakah kaset tersebut dinamakan mushaf al Quran juga?
    2. Bagaimana hukumnya kalau dalam keadaan junub memegang kaset tersebut?

Jawaban:

  1. Istinja’ itu tidak khusus bagi laki-laki saja, tetapi juga berlaku bagi wanita. Sedang yang dimaksud dengan batu yang dapat dipergunakan untuk istinja’ itu sebagaimana keterangan dari kitab fiqh dapat berupa benda apa saja yang kering, dapat menghisap kotoran, bukan berupa bahan makanan dan bukan tulang, misalnya kertas atau tissu.

  2. Adapun cara ber-istinja’ dari buang air besar antara laki-laki dan perempuan adalah sama. Sedang ber-istinja' dari kencing, maka jika laki-laki yang diusap adalah lubang tempat keluarnya air seni yang ada pada hasyafah, dan bagi perempuan juga lubang tempat keluar seni yang ada pada farji-nya.

    Dasar pengambilan:

    Kitab al Fiqhul Manhaji juz 1 halaman 45

    …فَيُشْتَرَطُ أنْ يَكُونَ المُسْتَعْمَلُ جَافًّا وأن يُسْتَعْمَلُ قَبْلَ أنْ يَجِفَّ الخَارِجُ مِنَ القُبُلِ او الدُّبُرِ وأنْ لايُجَاوِزَ الخَارِجُ صَفْحَةَ الإِلْيَةِ اوحَشَفَةَ الذَّكَرِ وَمَا يُقَابِلُهَا مِنْ مَخْرَجِ البَولِ عِنْدَ الأنْثَى وَألاَّ يَنْتَقِلَ عَنِ المَحَلِّ الَّذِى اَصَابَهُ أَسْنَاءَ خُرُوجِهِ.

    ... Maka disyaratkan agar benda yang dipergunakan untuk istinja’ itu kering, najis yang keluar dari qubul atau dubur belum kering, najis yang keluar tidak mengenai pantat atau kepala dzakar dan apa yang membandinginya dari tempat keluar kencing pada wanita. Najisnya tidak berpindah dari tempat yang terkena najis pada saat keluarnya.

    1. Kaset rekaman al Quran adalah termasuk mushaf al Quran, sebab didalam terekam firman Allah swt.
    2. Orang yang berhadas kecil, apa lagi berhadas besar seperti junub, hukumnya haram memegang kaset tersebut.

    Dasar pengambilan:

    Kitab Kasyifatus Saja syarah Safinatun Naja halaman 28:

    (فصل) فِى بَيَانِ مَايَحْرُمُ بِالحَدَثِ الأصَغَرِ وَالمُتَوَسِطِ والأكبَرِ... إلَى أنْ قَالَ: وَثَالِثُهَا (مَسُّ المُصْحَفِ) وَهُوَ كُلُّ مَا كُتِبَ عَلَيْهِ قُرْأنٌ لِدِرَاسَتِهِ وَلَوعَمُودً او لَوحًا او جِلْدًا او قِرْطَاسًا. وَخَرَجَ بِذَلِكَ التَّمِيْمَةُ وَهِيَ مَايُكْتَبُ فِيْهَا شَيءٌ مِنَ القُرْأنِ لِلتَّبَرُّكِ وَتُعُلِّقَ عَلَى الرَّأسِ مَثَلاً فَلاَ يَحْرُمُ مَسُّهَا وَلاَ حَمْلُهَا مَالَمْ تُسَمَّ مُصْحَفًا عُرْفًا. فَإذَا كُتِبَ القُرْأنُ كُلُّهُ لاَيُقَالُ لَهُ تَمِيْمَةٌ وَلَو صَغُرَ وَإنْ قَصَدَ بِذَلِكَ فَلاَ عِبْرَةَ لِقَصْدِهِ. قَالَ إبنُ حَجَرٍ وَالعِبْرَةُ فِى قَصْدِ الذِّرَاسَةِ وَالتَبَرُّكِ بِحَالِ الكِتَابَةِ دُوْنَ مَابَعْدَهَا وَبِالكَاتِبِ لِنَفْسِهِ او لِغَيْرِهِ تَبَرُّعًا اى بِلاَ أُجْرَةٍ وَلاَ أَمْرٍ. وَإلاَّ فآمِرُهُ او مُسْتَأجِرُهُ. قَالَ النَّوَاوِيُّ فِى التِّبْيَانِ وَسَوَاءٌ مَسُّ نَفْسِ المُصْحَفِ المَكْتُوبِ اوِ الحَوَاشِي او الجِلْدِ. وَيَحْرُمُ مَسُّ الخَرِيْطَةِ وَالغِلاَفِ وَالصُّنْدُوقِ اذَا كَانَ فِيْهِنَّ المُصْحَفُ. هَذَا هُوَ المُخْتَارُ.

    (Pasal) Tentang penjelasan dari apa yang haram sebab hadats kecil atau sedang atau besar ... sampai kata mushonnif: yang ketiga adalah menyemtuh mushaf yaitu apa saja yang tertulis padanya al Quran untuk belajar, meskipun berupa tiang, batu tulis atau kulit atau kertas. Dan tidaklah termasuk mushaf ‘tamimah’ yaitu apa yang ditulis padanya sedikit dari al Quran untuk mencari berkah dan digantungkan pada kepala misalnya, maka tidah haram menyentuh dan membawanya selama tidak dinamakan al Quran menurut adat kebiasaan. Maka jika seluruh al Quran ditulis, tidaklah dapat dikatakan ‘tamimah’ meskipun kecil dan dimaksudkan sebagai ‘tamimah’ maka sama sekali tidak ada pertimbangan bagi masidnya. Ibn Hajar berkata: Pertimbangan dalam tujuan belajar, atau mencari berkah adalah pada waktu menulis, bukan sesudahnya, dan dengan orang yang menulis untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain secara sukarela tanpa upah dan tanpa perintah. Jika tidak demikian, maka yang dipertimbangkan adalah orang yang memerintahkan atau orang yang mengupahkan. Imam Nawawi kitab at Tibyan berkata: baik menyentuh mushaf yang ditulis itu sendiri atau pinggirnya atau kulitnya. Dan haram menyentuh kantung atau sampul atau peti apabila di dalamnya terdapat mushaf. Inilah pendapat yang dipilih.