Bahtsul Masail Diniyah


Khusuk dalam salat

  1. Kami ingin menanyakan masalah kehusukan dalam salat. Kami kadang-kadang kurang khusyu' dalam salat dengan dasar fikiran kami kemana-mana.Kami sudah berusaha untuk khusyu' tapi masih belum khusyu' juga kami mengulangnya beberapa kali.Namun demikian,juga masih belum khusyu'. Dan untuk menghindari hal tersebut bagaimana tindakan kami, mohon penjelasan bapak.
  2. Ketika kami salat di sebuah mushola, kami melihat seorang ibu sedang salat, beliau bersama anak kecil kira-kira berumur tiga tahunan. Ketika ibunya salat, anak kecil lari-larian disekitar ibunya. Saking bandelnya anak tersebut dia jatuh, lalu ibunya menjerit dalam salatnya. Yang kami tanyakan, sahkah ibu anak tersebut dalam salatnya? mohon penjelasan bapak pengasuh.

Jawaban:

Saudara penanya yang terhormat, masalah kekhusuan yang saudara tanyakan, kita sebagai manusia biasa tidak akan mungkin dalam salat sejak takbiratul ihram sampai dengan salam tidak mengingat selain Allah. Hal ini telah dibuktikan dalam sebuah Kitab yang menjadi asbabun nuzul dari ayat Al-Qur'an surat an-Najm ayat32:

... فَلاَ تُزَكُّوْااَنْفُسَكُمْ هُوَاَعْلَمُ بِمَنِ الَتَّقى (النجم:23)

Artinya;…Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.Dialah yang paling mengetahui tentang orang orang yang bertaqwa.

Ayat tersebut turun,berkenaan dengan para sahabat yang mengangap dirinya lebih baik dari yang lain.Kemudian Rasulullah saw mengadakan perlombaan (uji coba) kepada para sahabat.Barang siapa yang dapat melakukan salat dua rakaat saja sejak takbir sampai salam khusyu' (selalu mengingat Allah) ia akan diberi hadiah surban hijau.

Dari tawaran rasullulah itu, kemudian Abubakar mencoba melakukan salat. Di rakaat pertama, setelah membaca fatihah,Abu bakar berkata dalam hati: mudah-mudahan saya yang menang. Setelah selesai salat, Abubakar mengatakan kata hatinya tersebut kepada Rasullulah.Dengan demikian Abu bakar di nyatakan oleh Rasulullah bahwa Abu bakar sudah mengingat selain Allah(merusak kekhusukanya). Dengan demikian dia gagal.

Begitu juga, sahabat Umar dan Usman, hampir sama dengan Abubakar. Keduanya juga gagal. Tinggal satu sahabat yang paling terkenal khusu' dalam salat. Yaitu Ali bin Abi Tholib yang karena kekhusyu'annya beliau tidak merasakan sakit sewaktu kena panah oleh Ibnu Muljam (pembunuhnya). Dan untuk mengambil anak panah tersebut diambil ketika dirinya melakukan sujud. Sehingga tidak merasakan sakit ketika anak panah diambil dari tubuhnya, namun bisa jadi mengingat salat lima waktu adalah bagian dari penghormatan kepada Khaliq, sementara salat janazah merupakan penghormatan untuk orang yang meninggal. Disamping itu seandainya ada ruku' dan sujudnya sementara janazah ditempatkan di depan orang yang salat, jangan-jangan disalahartikan sebagai penyembahan kepada orang yang mati. Bukankah kemakruhan salat saat matahari terbit dan terbenam juga dengan alasan menghindari penyembahan kepada matahari?