Rubrik Tanya Jawab


Pengertian Tidur Sebagai Ibadah Bagi yang Berpuasa

Pertanyaan

Sudah menjadi rahasia umum, bila setiap bulan Ramadan banyak pegawai-pegawai kantoran yang bermalas malasan atau tidur di tempat kerja dengan alasan tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Sehingga seakan-akan ibadah puasa menghalang-halangi peningkatan kinerja seorang pegawai, disamping itu Ramadan akhir-akhir ini seperti pekan kuliner, dimana-mana banyak penjaja dan pembeli makanan berbuka yang membuat macet dan merepotkan banyak orang setiap sorenya. Mohon penjelasan

Basuki Nur, bas_oeki@hotmail.com

Jawab

Hadits naumu shaim ibadah yang berarti tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah memang ada diriwayatkan oleh Imam Baihaqi. Hanya saja haditsnya tidak berhenti sampai disitu, hadits lengkapnya adalah

naumu shaim ibadah, wa sumtuhu tasbih wa amaluhu mudloaf wa duauhu mustajab dzambuhu maghfur  

"tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya akan dilipat gandakan pahalanya, doanya akan dikabulkan dan dosa-dosanya akan diampuni."

Hadits tersebut bukan dalam rangka memotivasi seseorang untuk memperbanyak tidur saat berpuasa, bahkan terlalu banyak tidur saat berpuasa hukumnya makruh (tidak disukai Allah). Allah memberi keutamaan atas orang yang beribadah puasa, sehingga hadits tersebut harus dipahami dengan mafhum awlawy, maksudnya kalau tidur saja berpahala apalagi beramal.

Di banyak pesantren hadits ini dipraktekkan dengan lebih sempurna tidak diambil sisi tidurnya saja. Kebanyakan di pesantren-pesantren intensitas proses belajar mengajar ditambah pada bulan puasa bahkan terkadang bisa dikatakan tidak sempat istirahat karena padatnya jadwal pengajaran. Karenanya pemahaman seperti yang anda ceritakan itu perlu diluruskan.

Pergeseran budaya memang secara tidak langsung membawa dampak dalam beribadah. Disatu sisi kita bisa melihat berkah Ramadan bisa membuat orang bertambah rezekinya karena berjualan untuk orang-orang yang akan berbuka. Disisi lain kita tidak bisa menampik sisi negatifnya yang kemudian malah menghilangkan tujuan utama berpuasa yaitu menahan hawa nafsu.

Janji Allah dalam hadits Nabi diatas seharusnya sudah sangat cukup untuk kita gunakan motivasi menambah mutu dan intensitas ibadah kita. Kalaupun kemudian diantara kita malah menggunakannya sebagai moment pemuas nafsu syahwat makan maupun yang lain tentunya akan menjadi seleksi alam siapa yang akan memanen pahala berlimpah dibulan suci ini dan siapa yang hanya merasakan lapar disiang hari tanpa mendapat apa-apa. RasuluLlah telah memperingatkan dalam sebuah haditsnya “banyak sekali orang yang berpuasa tanpa mendapat apapun kecuali lapar dan dahaga.

Tidur dan nafsu makan memang telah menjadi hukum kausalitas. Para ulama menyatakan

“barangsiapa banyak makan, dia akan banyak minum, dan barangsiapa yang banyak minum, dia akan banyak tidur dan menjadi gendut dan barang siapa yang terlalu banyak tidur hatinya keras dan mudah terbenam dalam perilaku dosa.”

Wallahu a’lam

Referensi

  • Dur al ma’tsur I halaman 183
  • Fawakih Dawani II halaman 2
  • Taqrirat Sadidah 338