Rubrik Tanya Jawab


Sedekah/Zakat pada Orang tidak Shalat

Persoalan

Bagaimana hukumnya jika kita berzakat atau bersedekah kepada orang yang tidak sholat. Karena sebelumnya kita tidak tahu bahwa dia tidak sholat dan sekarang baru tahu kalau yang bersangkutan tidak shalat.

Pertanyaan

  1. Apakah sedekah saya selama ini sia-sia?
  2. Apakah otomatis ikut kafir karena memberikan zakat/sedekah pada orang yang tidak shalat tersebut?

Jawaban

  1. Menurut qaul mu'tamad, zakat harus diserahkan pada orang yang shalat.
  2. Tidak ikut kafir tidak. Hanya zakatnya tidak sah. Kalau sudah terlanjur, bisa mengikuti  madzhab Hanafi yang memperbolehkannya. Sedangkan menurut Imam Syafi'i tetap harus diberikan kepada lil musholli.

Apakah orang yang biasa (bertahun-tahun) Tarikush sholat dan sering diberi santunan zakat tetapi tetap tidak menjalankan sholat (walau kaslhan), masih boleh diberi zakat?  Apakah Tarikush Sholat tersebut bisa digolongkan ‘Aashin yang terang-terangan? Maka harap kita pahami penjelasan para ulama’ mengenai hal ini, dari kitab-kitab sbb. yang menghukumi haram memberi zakat orang ahli maksiat yang terang-terangan.

Sudah maklum bagi kita, biasanya Panitia Zakat membagikan zakat pada semua orang yang digolongkan Islam meskipun tidak sholat, dengan alasan mereka orang Islam, padahal kalau kita simak dalilnya yang menghukumi haram untuk memberi zakat, meskipun sah zakatnya.

Dasar Hukum

  1. Khulashatul Kalam fi Arkanil Islam:
    Zakat tidak boleh ditasarrufkan kepada 6 kelompok orang. Di antaranya adalah apabila uang zakat yang diberikan itu dipakai untuk berjudi (meskipun yang bersangkutan melakukan shalat--Red.)
  2. فَتْحُ الْعَلاَم: 3 : 492 - 493
    وَلاَ يَصِحُّ دَفْعُ الزَّكَاةِ لِمَنْ بَلَغَ تَارِكًا لِلصَّلاَةِ اَوْ مُبَذِّرًا لِمَالِهِ بَلْ يَقْبِضُهَالَهُ وَلِيُّهُ

    Tidak sah memberikan zakat kepada orang yang sudah baligh (mukallaf) yang meninggalkan sholat atau orang yang memubadzirkan hartanya akan tetapi walinya yang berhak menerima zakat untuk orang tersebut.
  3. وَيَجُوْزُ دَفْعُهَالِفَاسِقٍ اِلاَّ إِنْ عُلِمَ أَنَّـهُ يُصَرِّفُهَا فِى مَعْصِيِّةٍ فَيَحْرُمُ وَتُجْزِئُ

    Boleh memberikan zakat kepada orang yang fasiq (orang muslim yang masih suka melakukan kemaksiatan) kecuali apabila diketahui sesungguhnya ia mempergunakan pemberian zakat tersebut untuk maksiat (salah satu contohnya seperti orang yang tidak mau melakukan sholat), maka haram memberinya dan zakatnya sah.

    ب.) الشَرْقَاوِى عَلَى التَّحْرِيْرِ: 1 : 392
    (قَوْلُهُ وَشُرِطَ آخِذُ الزَّكَاةِ الخ) ... وَيُعْلَمُ عَلَى مَا ذُكِرَ أَنَّهُ يَجُوْزُ دَفْعُهَا لِفَاسِقٍ اِلاَّ اِنْ عُلِمَ أَنَّهُ يَسْتَعِيْنُ ِبهَا عَلَى مَعْصِِيِّةٍ فَيَحْرُمُ وَاِنْ أَجْزَأَ

    (Perkataan Mushannif: Disyaratkan orang yang mengambil zakat dst.) ... Berdasarkan apa yang sudah diterangkan, diketahui sesungguhnya boleh memberikan zakat kepada orang yang fasiq kecuali apabila diketahui ia mengambil pertolongan dengan harta zakat (yang diberikan kepadanya) untuk perbuatan maksiat, maka haram memberinya, meskipun mencukupi (sah zakatnya).
  4. ترشيح المستفيدين:156
    أ. وَيَجُوْزُ دَفْعُهَا لِفَاسِقٍ اِلاَّ اِنْ عُلِمَ أَنـَّهُ يَسْتَعِيْنُ بِهَا عَلَى مَعْصِيِّةٍ فَيَحْرُمُ اِنْ أَجْزَأَ.
    ب. (فَائِدَةٌ) أُفْتِى بِذَلِكَ اَنَّهُ لَيْسَ لِتَارِكِ الصَّلاَةِ قَبْضُهَا وَاِنِ اسْتَحَقَّهَا وَبَنَاهُ فِى التُّحْفَةِ ... لَكِنْ اُوْرِدَ عَلَيْهَا أَنَّ الْكَلاَمَ فِى اسْتِحْقَاقِ الزَّكَاةِ لاَ فِى قَبْضِهَا

    a. Boleh memberikan zakat kepada orang fasiq kecuali apabila diketahui sesungguhnya ia mempergunakan pertolongan dengannya untuk perbuatan maksiat, maka haram hukumnya (memberi orang fasiq tersebut) meskipun (pemberian tersebut) mencukupi sahnya zakat.

    b. (Faedah) Dengan demikian difatwakan bahwa sesungguhnya Tidak ada kewenangan bagi orang yang meninggalkan sholat untuk mengambil zakat, meskipun ia termasuk mustahiquz zakat, keterangan ini ada dalam kitab Tuhfah. Akan tetapi yang diinginkan dalam zakat tersebut sesungguhnya pembicaraan dalam berhaknya menerima zakat bukan mengambil zakat.

  5. كفاية الأخيار: 2 : 204
    ... وَاِنْ تَرَكَهَا وَهُوَ يَعْتَقِدُ وُجُوْبُهَا ِلأَنَّهُ تَرِكَهَا تَكَاسُلاً حَتَّى خَرَجَ الْوَقْتُ فَهَلْ يَكْفُرُ؟ قِيْلَ نَعَمْ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ. رواه مسلم

    ... Apabila ia meninggalkan sholat dengan keadaan ia masih meyakini atas wajibnya sholat (atas dirinya), karena sesungguhnya ia meninggalkan sholat itu karena malas sehingga keluarlah waktu sholat; Apakah (yang demikian itu) ia sudah termasuk kufur? Maka dikatakan: "Ya" karena berdasarkan sabda Rasulullah saw.: "Antara hamba dan kufur batasannya adalah meninggalkan sholat". HR Muslim
  6. تنوير القلوب: 227
    وَأَيْضًا يَحْرُمُ اِذَا عَلِمَ الدَّافِعُ أَنَّ اْلآخِذَ يُصَرِّفُهَا فِى مَعْصِيَّةٍ

    Demikian juga dihukumi haram (memberikan zakat pada orang yang meninggalkan sholat) apabila orang yang menyerahkan zakat itu mengetahui bahwa orang yang menerima zakat itu mempergunakannya untuk kemaksiatan.