Rubrik Tanya Jawab


Selisih Pendapat Rukyatul Hilal untuk Lebaran

Pertanyaan

Terkait dengan perselisihan tentang keabsahan hasil rukyat di Bangkalan tahun lalu (2006/1427 H), Adakah dalil yang memperbolehkan kita hari raya mengikuti rukyat orang yang disumpah meski secara hisab dianggap belum imkan rukyat?

Jawaban

Ada.

Dasar Hukum

Radd al Mukhtar juz 7 halaman 365

وَقَالَ الْحِسَابُ بِعَدَمِ إمْكَانِ الرُّؤْيَةِ تِلْكَ اللَّيْلَةَ عُمِلَ بِقَوْلِ أَهْلِ الْحِسَابِ ؛ لِأَنَّ الْحِسَابَ قَطْعِيٌّ وَالشَّهَادَةُ ظَنِّيَّةٌ ، وَأَطَالَ فِي ذَلِكَ فَهَلْ يُعْمَلُ بِمَا قَالَهُ أَمْ لَا وَفِيمَا إذَا رُئِيَ الْهِلَالُ نَهَارًا قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ يَوْمَ التَّاسِعِ وَالْعِشْرِينَ مِنْ الشَّهْرِ ، وَشَهِدَتْ بَيِّنَةٌ بِرُؤْيَةِ هِلَالِ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الثَّلَاثِينَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَهَلْ تُقْبَلُ الشَّهَادَةُ أَمْ لَا ؛ لِأَنَّ الْهِلَالَ إذَا كَانَ الشَّهْرُ كَامِلًا يَغِيبُ لَيْلَتَيْنِ أَوْ نَاقِصًا يَغِيبُ لَيْلَةً أَوْ غَابَ الْهِلَالُ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ قَبْلَ دُخُولِ وَقْتِ الْعِشَاءِ { ؛ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْعِشَاءَ لِسُقُوطِ الْقَمَرِ الثَّالِثَةَ } هَلْ يُعْمَلُ بِالشَّهَادَةِ أَمْ لَا ؟ . فَأَجَابَ : بِأَنَّ الْمَعْمُولَ بِهِ فِي الْمَسَائِلِ الثَّلَاثِ مَا شَهِدَتْ بِهِ الْبَيِّنَةُ ؛ لِأَنَّ الشَّهَادَةَ نَزَّلَهَا الشَّارِعُ مَنْزِلَةَ الْيَقِينِ وماقَالَهُ السُّبْكِيُّ مَرْدُودٌ رَدَّهُ عَلَيْهِ جَمَاعَةٌ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ

Ahli Hisab menyatakan “tidak mungkin dilihat malam itu” maka diterapkan pernyataan ahli hisab itu, karena hisab itu sesuatu yang pasti/qath’i, sementara kesaksian adalah dzan (persangkaan). Permasalahan ini diperpanjang dengan apakah pernyataan ini bisa diamalkan atau tidak dan pada masalah ketika hilal dilihat siang hari sebelum terbit matahari pada hari ke 29 dari suatu bulan, dan seorang saksi bersaksi/bersumpah melihat hilal pada malam 30 pada bulan sya’ban apakah kesaksiannya diterima atau tidak? Karena hilal kalau bulan itu sempurna (30 hari) pada dua malam tidak tampak, apabila 29 hari hilal/bulan tidak tampak satu malam atau hilal hilang pada malam ketiga sebelum masuknya waktu shalat isya karena Nabi Muhammad shalat isya’ (saja tidak tarawih) karena hilangnya bulan yang ketiga. Apakah kesaksian itu bisa diamalkan? Maka (Shahib Radd al Muhtar) Menjawab : “ bahwa yang diamalkan dalam masalah yang ketiga adalah apa yang dipersaksikan karena kesaksian dalam syariat ditempatkan pada tempat keyakinan, adapun apa yang disampaikan al Subuki adalah tertolak, golongan ulama Kurun Akhir menolaknya.