Artikel Keislaman


Survivalisme Bangsa Berangkat dari Ramadlan kita

Idul Fitri sebuah moment tersendiri untuk kebangkitan umat Islam, setelah sebulan bergulat dengan kegiatan Ramadlan, yang dalamnya ada tiga fase, selaras apa yang di tuturkan Rasulullah saw, seminggu yang pertama rahmatullah, seminggu yang kedua maghfiroh, dan seminggu terakhir itquminannar. Tiga tahapan itu adalah sebuah penghargaan Allah yang tertinggi diantara umat-umat lain, yang pernah menghuni bumi ini.

Di sisi lain, fenomena yang melekat di bulan Ramadlan adalah sisi pendidikan, khususnya pendidikan, tidak dijumpai pendidikan yang sarat dengan social contens dan religi contens. Kesemuanya demi mensucikan kembali fitrah manusia, menuju tingkatan malaikat. Artinya tingkatan yang didalamnya dapat meminimalisir eksplorasi-eksplorasi nafsu. Maka ketika kita memasuki bulan Ramadlan yang memang dikhususkan untuk umat Muhammad saw, dengan segala aktifitas sunnah didalamnya,dan menjauhi nilai-nilai syahwani. Sudah pasti kita mendapat gelar fitrah (kesucian) yang dijanjikan oleh Allah swt., sejalan dengan hadist:

"man shoma romadlona imanan wahtisaaban ghufiro lahu ma taqoddama min dzambihi",

Bacaan tadarrus kita, sholat tarawih kita, sedekah kita menjadi berlipat ganda di bulan Ramadlan, dan jangan lupa bahwa barang siapa yang berbuat dosa di bulan Ramadlan, akan menjadi berlipat ganda. Menjadi sejalan dengan apa yang telah dilakukan oleh para aparat, untuk mentertibkan kegiatan maksiat di bulan Ramadlan, semoga niatan baik itu diberi pahala dan maghfiroh dari Allah swt.

Dari sisi sosial ramadlan adalah bulan yang paling ramai dan digemari umat Islam. Artinya mereka yang sadar tingkat ekonominya lebih tinggi berusaha berlomba-lomba untuk bersedekah pada fuqoro' dan masakin. Dari sisi inilah Islam adalah agama sosial, agama yang menjunjung tinggi nilai kemasyarakatan, disamping sang hamba dituntut untuk selalu bermunajat, bertaqarrub kepada Sang Khaliq. Ramadlan bulan mendukung untuk mengangkat kesenjangan sosial, tinggal bagaimana orang mengelola untuk survival (bangkit) berjuang melawan kemiskinan.

Ngomong-ngomong soal kemiskinan, pemerintah lagi-lagi menyerah terhadap mekanisme pasar. Klimaksnya, harga sembako melangit dan menyusahkan orang miskin. Kesalehan sosial bangsa Indonesia kembali tercoreng, dengan gaya konsumerisme masyarat kita, dan dengan mental rentenir yang banyak mengalir dalam jiwa pengusaha kita. Semoga dengan bulan Ramadlan ini, pemerintah mampu menekan harga sembako dengan sidak dan rakyat menjadi ringan karena stabilisasi harga terjaga. Ramadlan kan bukan neraka bagi rakyat jelata, dan juga bukan surga bagi para tengkulak.

Ramadlan Mubarak, gempa masih menjadi musibah nasional, entah mengapa harus terjadi, itukan Rahasia Sang Pencipta?, kenapa harus ditanyakan! Kembali ke semangat ramadlan, sebagai bulan instropeksi diri. Sudahkah kita memenuhi hak-hak Allah dan RasulNya?, musibah bisa disebabkan oleh murka Allah kepada rakyat jelata yang bermaksiat, penguasa lalim, atau ulama yang berkhianat pada ilmunya. Masyarakat cukup cerdas menilai itu semua, dan Allah tetap yang paling bijaksana dengan kehendaknya, jangan sampai kita berucap, "Kok, orang Islam yang terkena bala?", atau lebih ekstrim, "Allah tidak adil". Karena perkataan itu hanyalah perkataan syirik khofi yang menjadikan Allah murka. Coba kalian amati lagi tingkah laku dan amaliyah kita. Ramadlan bulan yang pas untuk mengkalkulasi amaliyah kita. dan bulan yang penuh dengan kemurahan (dispensasi) dari Allah.

Jika saja kita mampu meneruskan semangat ini di bulan setelah ramadlan, alangkah baiknya. Pintu langit terbuka lebar buat hambanya yang meminta petunjuk untuk sebuah perubahan umat. Wallahu 'ala kulli syai'in Qodiir.

Sementara sang tukang becak berektase dengan Allah, melalui putaran kayuhan dari kedua kakinya, Allahu-Allahu-Allahu semakin sering intensitasnya di lisan, di jantung, dan sekujur darah yang mengalir di tubuhnya. Tubuhnya terbiasa kontak dengan Allah, wataknya tidak pernah tergores dalam pikirannya : "saya memasang tarif berapa pada penumpang ini". Peluh keringatnya keluar dari pori-pori, seolah menjadi sakksi bahwa dialah pasukan-pasukan Allah yang tersebar di muka bumi. Seolah meminimalisir murka Allah untuk cukong-cukong yang mempermainkan harga di pasaran. Bagaimana dengan pasukan Allah di belahan bumi yang lain? Adakah anda tertarik dengan fenomena ini.

Ramadlan membungkus fenomena baik dan buruk itu menjadi lembaran qodar Allah. Sementara para malaikat sibuk untuk mensucikan Allah, dan mencatat orang-orang yang beramal baik di bulan Ramadlan.

Semoga nuansa Ramadlan itu terulang kembali di tahun depan, dan Allah menggulirkan lembaran demi lembaran peristiwa lebih baik, karena semangat survival yang kita miliki, dan telaah yang telah kita lalui, menuju Indonesia yang lebih baik. Amin allahumma amin.

Penulis:
ACHMAD SHIROJUDDIN IBN MARHUM