Artikel Keislaman


Adab Berpuasa

Rasulullah telah bersabda:

Inni bu'itstu li utammima makarimal ahlaq.

Aku diutus untuk menyempurnakan ahlaq.

Sebagai penyempurna tiap ibadah, selalu diselipkan adab atau ahlak dalam menjalaninya, sebagai bagian tarbiyah ummat menuju ahlak yang mulia. Begitu juga bagi orang yang berpuasa, ada adab atau ahlak yang harus dijalani, karena tidak akan sempurna puasa itu kecuali dengan adanya adab tersebut.

Adab yang terpenting bagi orang yang berpuasa adalah menjaga lidah dari dusta dan ghibah (menggunjing) serta membicarakan sesuatu yang tidak perlu baginya. begitu juga menjaga mata dan telinganya dari mendengarkan dan melihat kepada sesuatu yang tidak halal baginya serta sesuatu yang dianggap fudhul (berlebihan).

Kemungkinan diterimanya puasa kita, juga dipengaruhi oleh seberapa besar seseorang berupaya menjaga dirinya dari memakan makanan haram dan syubhat, khususnya ketika berbuka puasa. Hamba Allah pilihan akan berusaha dengan sanat hati-hati untuk tidak berbuka puasa, kecuali dengan memakan makanan yang halal.

Seorang ulama salaf berkata:

Apabila engkau puasa, lihat makanan apa yang engkau makan ketika berbuka dan di tempat siapa engkau berbuka.

Hal itu merupakan dorongan agar berhati-hati mengenai makanan untuk berbuka puasa.

Begitu pula orang yang berpuasa harus menjaga semua anggota tubuhnya dari melakukan dosa-dosa, kemdian dari perbuatan yang tidak perlu. Dengan itu puasanya menjadi sempurna dan bersih. Banyak orang berpuasa dengan memayahkan dirinya dengan lapar dan haus, namun ia biarkan anggota tubuhnya berbuat maksiat sehingga merusak puasanya dan mensia-siakan kepayahannya.

Nabi shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:

"Banyak orang berpuasa, tetapi puasanya hanya menghasilkan lapar dan haus."

Meninggalkan maksiat adalah wajib untuk selamanya atas orang yang berpuasa maupun orang yang tidak berpuasa. Akann tetapi bagi orang yang berpuasa lebih hati-hati dan lebih wajib.

Nabi SAW bersabda:

"Puasa itu adalah perisai. Maka pada hari seorang dari kamu berpuasa, janganlah ia berkata keji dan berbuat kefasikan serta jangan mengganggu orang lain. Jika ada orang memakinya atau memakinya, maka katakanlah: Sesungguhnya aku berpuasa."

Termasuk adab orang berpuasa ialah untuk tidak banyak tidur disiang hari dan tidak banyak makan diwaktu malam. Hendaknya dia makan sekedarnya hingga dia merasakan sentuhan lapar dan haus supaya jiwa menjadi baik dan syahwatnya menjadi lemah serta hatinya menjadi terang. Itulah rahasia puasa dan tujuannya.

Hendaklah orang yang puasa menjauhi kemauan dan kesenangan syahwat serta kenikmatan yang banyak. Sedikit-sedikitnya adalah kebiasaan bersenang-bersenang itu hanya sekali di bulan Ramadhan dan lainnya. Ini adalah sedikit-dikitnya yang patut. Akan tetapi latihan dan menjauhi keinginan nafsu menimbulkan pengaruh besar dalam dalam menerangi hati dan secara khusus dituntut di bulan Ramadhan.

Adapun orang-orang yang menjadikan bersenang-senang dan hidup mewah di bulan ramadhan yang mereka tidak biasa lakukan diluar bulan ramadhan, maka hal itu tipu daya setan yang menipu mereka supaya mereka tidak merasakan keberkahan puasa mereka. Dan supaya tidak nampak pada mereka pengaruhnya berupa cahaya, mukassafat, sifat khusyu', kepada Allah dan tunduk di hadapan-Nya menikmati munajat-Nya dan pembacaan kitab-Nya serta dzikir-Nya.

Kebiasaan salaf kita adalah mengurangi kebiasan dan kesenangan nafsu serta memperbanyak amal baik di bulan Ramadhan secara khusus, meskipun hal itu sudah dikenal dari prilaku mereka dalam seluruh waktu.

Di antara adab berpuasa ialah tidak terlalu banyak mengurusi dunia di bulan Ramadhan, tetapi semaksimal mungkin mengkhususkan diri beribadah kepada Allah dan menyebut namaNya. Berupaya menghindar mengurusi dunia, kecuali bila sangat mendesak bagi kebutuhannya atau anak-anak yang wajib diurusinya. Bulan Ramadhan di antara bulan-bulan yang lain seperti hari Jumat di antara hari-hari dalam seminggu. Oleh karena itu orang mu`min harus berupaya menjadikan hari jumat dan bulannya ini khusus untuk akhiratnya.

Di antara kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhkan dalam berpuasa, ada pula kesunnahan yang dianjurkan dilaksanakan; diantaranya adalah menyegerakan buka puasa dan membuka dengan kurma, jika tidak menemukannya, maka ia berbuka dengan air. Adalah Nabi SAW berbuka sebelum shalat maghrib.

Nabi SAW bersabda

"Umatku selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan dalam berbuka puasa mengakhiri sahur."

Maka mengakhirkan sahur adalah sunnah pula. Orang yang puasa hendaknya makan sedikit. Hal itu dimaksudkan supaya nampak pengaruh puasa padanya dan iapun bisa mendapat hikmahnya dan mencapai tujuannya, yaitu mendidik nafsu dan melemahkan keinginannya. Karena rasa lapar dan kekosongan perut besar berpengaruh besar dalam menerangi hati dan kekuatan anggota badan dalam beribadah, sedangkan kekenyangan adalah menyebabkan kekerasan hati dan kelalaian dan kemalasan dalam melakukan ibadah.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Tidaklah anak Adam mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika ia tidak bisa menghindarinya, maka sepertiga perut itu untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya."

Seorang arif berkata:

Apabila perut menjadi kenyang maka semua anggota tubuh menjadi lapar, dan apabila perut menjadi lapar, maka semua anggota tubuh menjadi kenyang.

Aku katakan laparnya anggota-anggota tubuh adalah ibarat usaha dan keinginannya yang sangat untuk melampiaskan kesenangannya. Maka lidah suka bicara, mata suka memandang, dan telinga suka mendengar. Begitupula anggota tubuh yang lain. Bangkitnya anggota-anggota tubuh itu adalah untuk mencari kelebihan dari kesenangannya ketika perut menjadi penuh. Dan ketika perut kosong maka diamnya dan ketenangan anggota-anggota tubuh itulah yang diungkapkan dengan istilah kekenyangan anggota tubuh dan hal itu dapat disaksikan.

Wallahu alam.

Sangat dianjurkan memberi makan orang-orang yang puasa, walaupun hanya beberapa butir kurma atau seteguk air.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Barangsiapa yang memberi makan orang puasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang puasa itu tanpa mengurangi sedikitpun."

Pahala ini bisa diperoleh orang yang memberi makan buka puasa, walaupun hanya air. Adapun orang yang memberi makan orang puasa sesudah berbuka puasa di rumahnya atau ditempat lain, maka ia tidak mendapat pahala ini, tetapi mendapat pahala memberi makan, dan pahalanya besar. Bagaimanapun juga memberi makan orang yang puasa hingga kenyang adalah perbuatan yang mendapat banyak pahala.