Nasihat Kyai


KH. Miftahul Lutfi Muhammad al Mutawakkil: Tiga Pilar Kehidupan

Tiga pilar kehidupan bagi seorang muslim adalah Taqwallah, Taqarruban billah, dan Ridhallah. Demikianlah yang harus dipahami secara tepat, sebab apabila ketiga pilar kehidupan di atas dilalaikan oleh seorang manusia, maka hidup ini hanya akan menjadi "sampah". Dan hal itu telah banyak kita saksikan betapa mengenaskan kondisi para manusia yang telah meninggalkan tiga pilar kehidupan tersebut.

Sebagai seorang muslim mukmin kita jangan sampai meningglkan ketiga pilar di atas. Betapa ruginya jika ada seorang muslim yang telah berani meninggalkan: perilaku taqwa, perilaku Taqarrub dan perilaku ridha. Sebab di kehidupan dunia yang sementara ini sebenarnya secara essensial adalah hanya menunggu datangnya saat ajal menjemput. Kita haru s benar-benar sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, tidak ada kekekalan sama sekali. Hidup di dunia penuh dengan kenisbian yang terus berganti-ganti dan berubah-ubah. Maka jika seseorang tidak memiliki prinsip-prinsip ketauhidan yang diejawantahkan ke dalam tiga pilar kehidupan, secara otomatis dia akan menjadi manusia yang gagal di kehidupannya. Sebagaimana telah dinyatakan-Nya,

"Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, Padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)." (QS. Ar Ra'd [13]: 26)

Taqwallah

Sebagai seorang muslim mukmin dikehidupan ini harus sadar benar, disamping harus memahami bahwa hakekat hidup yang sebenarnya adalah melakukan pengabdian kepada-Nya yang hal itu diwujudkan dengan terus menerus meningkatkan ketaqwaan padaNya.

Taqwa yang dimaksud yaitu berusaha sekuat tenaga untuk menjaga diri dan memelihara diri dari segenap hal yang dapat mendatangkan murka-Nya dan laknat rasul-Nya (Miftahul Luthfi Muhammad: 2006). Karenanya kehidupan dikatakan sukses manakala seorang muslim itu benar-benar mampu menjaga diri dan memelihara dirinya dari segenap hal yang dapat mendatangkan murkaNya dan laknat RasulNya.

Sebaliknya, dikatakan tidak sukses jikalau dikehidupan keseharianya tidak lagi mampu memelihara dan menjaga dirinya dari segenap hal yang dapat mendatangkan murkaNya dan laknat RasulNya. Seseorang yang telah CC (commitment and consistent) dengan ketakwaanya maka ia telah memiliki salah satu dari tiga pilar kehidupan di dunia ini. Akan tetapi belumlah membahagiakan di kehidupan ini manakala seorang muslim tidak melengkapinya dengan taqarruban 'inda- Allah dan ridhaLlah.

Taqarruban 'inda-Llah

Yang tidak boleh dilalaikan oleh seorang muslim mukmin adalah di mana keseharian kehidupan ini harus melakukan pendekatan diri denganNya. Setiap saat, setiap hari begitu seterusnya. Selagi dirinya masih hidup di dunia. Itulah konsekuensi logis dari kemusliman dan kemukminannya.

Tanpa upaya dan usaha yang sungguh-sungguh di adalam melkukan pendekatan diri denganNYa, maka menjadi sia-sia lah segenap aktifitas kegiatannya selama hidup di dunia. Karenanya usah adan upaya didalam meningkatkan taqwa kepada Allah hendaknya harus merupakan pencerminan sekaligus wujud pengejawantahan dari pendekatan dirinya kepada Allah Azza Wa Jalla. Di sinilah kedudukan Niat (inner strong intention) menjadi sangat penting guna mendorong lahirnya kemauan (force of character) dan kemampuan (ability) untuk meakukan perubahan perilaku (behavior transformation) dan pembelajaran sifat (character learning), guna melakukan pendekatan diri denganNya.

Dan harus disadari bahwa upaya pendekatan diri kepadaNya merupakan usaha murni yang ditujukan semata untuk memperoleh ridhaNya. Sebab dinul Islam telah mengajarkan betapa ruginya kelak disisiNya apabila seorang hamba itu segenap jerih payahnya tidak mendapatkan RidhaNya.

Ridhallah

Ridhallah merupakan puncak dari segala hal yang hendak dicapai oleh seorang muslim mukmin di kehidupanNya. Hanya dengan mendapatkan ridhaNya seorang hamba itu akan mendapatkan cinta dan kasih sayangnya yang secara khusus akan menjadikan diri seorang hamba itu bagian dari para hamba yang telah dipilihNya. Bagaimanapun kita harus sadar bahwa seorang hamba Allah masuk surga itu semata karena kehendakNya, bukan karena yang lainnya, karenanya, sama sekali kita tidak dapat membanggakan segenap amaliah yang telah dilakukan di kehidupan dunia ini.

Betapa ruginya jika di kehidupan ini seseorang melakukan segenap kegiatan tidak diniatkan hanya untuk mencari ridhaNya. Sudah dapat dipastikan bahwa orang seperti ini sangat lemah keyakinan dan keimanannya. Secara riil hal itu dapat dilihat dengan tidak adanya ghirah di dalam mengamalkan sikap mental di dalam menomor satukan Allah, jujur dan ikhlas.

Apabila di kehidupan ini seseorang sangat lemah pada komitmen dan konsistensinya terhadap kekuatan segitiga Al Mamsyuk tersebut diatas. Sudah dapat dipastikan gaya hidup dan cara berpikir budaya kafir akan cepat dengan mudah mewarnai diri dan kerpribadiannya.

Suatu misal, untuk saat ini betapa beratnya yang pasti karena dorongan hawa nafsunya untuk tidak memiliki televisi dan telepon genggam. Padahal bagi seorang muslim yang seharusnya dilakukan adalah apa manfaatnya buat aqidah-syariah-akhlak, bukan karena alasan gengsi atau memang zaman menghendakinya untuk memiliki. Maka ketiadaan dua fasilitas komunikasi itu seolah telah menjadikan diri seseorang "mundur" ke zaman batu. Benarkah demikian?

Apapun ocehan dan cemoohan dari orang lain haruslah didayagunakan untuk menjadi daya dorong yang positif –konstruktif. Di sisi lain kita harus tetap teguh dengan sgenap prinsip yang telah kita pilih. Kita tidak perlu khawatir dengan prinsip-prinsip kita, sebab landasan teori yang diajarkan sangat jelas yaitu Neraca Syariat.

Karena hidup kita hanya mencari RidhaNya maka segenap hal yang tidak dapat mendatangkan ridhaNya dan Ridha RasulNya harus ditinggalkan. Apa saja! Jadi ukuran kemnfaatan yang di kehendaki dalam ajaran islam adalah memenuhi unsure ridha dan tidaknya Allah dan RasulNya terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang manusia khususnya dikehidupan keseharian seorang muslim mukmin.

Munculkan kesadaran diri (self awareness)

Kesadaran diri seorang manusia dapat dimunculkan manakala seseorang itu telah menghadapi tekanan dan kebuntuan jalan hidup. Akan tetapi bagi seoaran gmuslim mukmin haru sterus menerus melakukan pembelajaran sifat (character learning) lalu diikuti dengan perubahan perilaku (behavior transformation). Karena hanya dengan model yang demikianlah seseorang itu dapat meningkatkan percepatan keyakinan (quantum believing). Maka, untuk menumbuhkan percepatan keyakinan hal itu dapat dilakukan mulai sedini mungkin. Bahkan, ketika mausia masih dalam bentuk janin, seorang manusia sudah dapat dilakukan pembelajaran sifat yang baik (a good character learning).

Karenanya di dalam dinul islam banyk diajarkan berbagai macam motivasi kecerdasan yang bersumber dari tauhid-syariah-akhlak. Dalam hal iini dinul islam benar-benar menjadi motivasi kecerdasan sehingga mendorong terlahirnya niat untuk melakukan perubahan perilaku. Dan dari sinilah akan mulai muncul kemauan untuk melakuakn akselerasi sikap mental (attitude acceleration) sehingga sadar benar bahwa dirinya adalah seoang muslim mukmin yang merupakan ummat mulia yang dimulakaNya.

Abad XXI dunia sangat diramaiakan dengan berbagai macam kemauan dan kemampuan. Barang siapa yang memiliki kemauan dan kemampuan, maka merekalah yang dapat hidup pada abad ini. Sebaliknya barang siap tidak memiliki kemauan dan kemampuan, maka mereka akan secara otomatis tersingkirkan dari panggung dunia yang konon telah disebut zaman modern. Terlepas dari kesemuanya dinul islam telah mengajarkan bahwa seorang muslim haruslah senantiasa memiliki kemauan dan kemampuan. Sebab apalah artinya hidup di dunia yang sementara ini tidak memiliki kemauan dan kemampuan. Sebagaimana yang dikehendakiNya:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS Al Qashash [26] : 77)

Dalam rangka memenuhi pesanNya pada ayat diatas hal itu yidak dapat terwujud tanpa memiliki kemauan dan kemampuan. Merebut akhirat dan menundukkan dunia sangat dibutuhkan pula kemauan dan kemampuan.

Sementara kenyataan pelaku kerusakan di negeri ini sebagian besar orang islam. Bolehlah kita berapologia karena mayoritas pendududknya beragama Islam. Tapi apa memang demikian adanya? Tidakkah hal itu akibat langsung dari kegagalan model dakwah dan tarbiyah yang selama ini tengah berlangsung? Tidakkah zaman dahulu para da'i lebih berhasil mengislamkan penduduk asli bangsa ini yang mayoritas masih mengikuti keyakinan dinamisme, animism, dan hinduisme. Sedangkan sekarang ini para da'I kan hanya mengislamkan orang islam, kenapa tidak berhasil?

Padahal sangat sederhana dalam mengislamkan orang islam. Yaitu menjadikan seorang muslim komitmen dan konsisten dengan ajaran dinul islam. Sebagaimana dinyatakanNya:

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

"Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta."

"Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Al Fusshilat [41] : 30 - 33)

Sungguh inilah sebuah realitas yang sangat sulit didapatkan saat segala sesuatu sudah dinilai dengan uang. Sungguh sangat ironis jika seorang muslim ikut melakukan hal serupa, dan anehnya merasa nyaman dengan menyerupai orang-orang yang tidak mendapatkan ridhaNya.

Penulis ialah Pengasuh Ma’had Tee Bee Tambak Bening Surabaya. Dikutip dari Buletin al Fath. alfath18@yahoo.com