Nasihat Kyai


Habib Muhammad Ibn Abdullah al Aydrus: Kenikmatan Hati dan Nafs

Kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang berhati bersih tidak sama dengan kenikmatan orang yang terbelenggu oleh nafs. Kenikmatan hati adalah kenikmatan yang sebenarnya. Orang-orang yang berhati bersih menikmati berbagai kebajikan, merasakan kesenangan batin dan berkelana dengan pikiran-pikiran baiknya. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang yang berhati bersih untuk mencari tempat-tempat yang sepi kemudian menikmatinya, terutama pekuburan. Tempat yang secara langsung mengajarkan bahwa semua orang akan tinggal di sana. Orang-orang yang berhati bersih menikmati berbagai kebajikan yang dijauhi oleh mereka yang terbelenggu oleh berbagai kenikmatan nafs. Keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar.

Orang yang berhati bersih akan merasa cukup dengan sedikit harta (qanaah), menyukai semangat yang muncul dari pikiran mereka dan menikmati batin serta taman-taman pemikiran mereka. Sedangkan kenikmatan orang yang terbelenggu oleh nafs kadang sulit didapat dan melelahkan, seperti usaha untuk menumpuk harta tetapi tidak menyedekahkannya, usaha untuk membalas dendam dan usaha untuk menghindari musuh dan penentang. Semua usaha ini melelahkan. Demi memenuhi keinginan syahwat yang hina, manusia rela melakukan berbagai dosa besar.

Orang yang berhati bersih merasa kaya meskipun tak memiliki harta. Demikianlah sifat orang-orang yang memiliki kenikmatan. Walau hanya memiliki sedikit teman, mereka tetap memburu kemuliaan. Mereka mengatur waktu dengan seksama. Jika Allah memberinya makanan yang hanya cukup untuk satu hari, merekapun bersyukur dan memandangnya sebagai nikmat yang paling sempurna. Sebab, keadaan orang yang menumpuk-numpuk dan menyombongkan harta sangat berbahaya, sedikit dari mereka yang selamat. Kecuali, orang yang bersyukur dan mendermakan hartanya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan menghindari sikap kikir yang tercela. Sangat sedikit orang kaya yang mau berbuat seperti ini, sebab sebagian besar dari mereka hanya memperoleh sedikit taufik, khususnya di zaman ini, zaman di mana sifat kikir telah menguasai jiwa.

Nabi Isa berkata:

"Kukatakan kepada kalian, sesungguhnya seekor onta lebih mudah memasuki lubang jarum daripada orang kaya masuk ke surga."

Maksud sabda Nabi Isa di atas yaitu masuk surga tanpa hisab.

Diriwayatkan bahwa Allah SWT berkata kepada Nabi Musa as:

"Wahai Musa, jika engkau melihat seorang fakir datang, maka katakanlah kepadanya, "selamat datang syiar kaum sholihin." Dan jika engkau melihat orang kaya datang, maka katakanlah, "Inilah dosa yang disegerakan siksanya." Wahai Musa jangan lupakan Aku, sebab ketika seseorang melupakanKu, dia akan berbuat banyak dosa. Dan jangan merasa senang dengan memiliki banyak harta, sebab banyak harta akan mengeraskan hati."

Wahai saudaraku ketahuilah, orang-orang sebelum kita hidup di zaman yang baik. Mereka hidup di zaman yang baik, selalu memandang orang-orang yang mulia dan cerdas, besikap shidq dalam mencapai semua tujuannya dan berlomba-lomba mengamalkan sunnah. Hati merekapun menjadi bersih. Setelah zaman yang baik ini berlalu, penghuninya pergi, kebaikan pun hilang. Mereka yang hidup di akhir zaman tidak merasakan nikmatnya akhlak mulia serta tidak menyaksikan orang-orang yang shidq. Akhirnya mereka mencari kenikmatan lain; kenikmatan yang rendah dan melelahkan. Mereka tidak merasakan berbagai kenikmatan mulia yang diperoleh orang-orang zaman dahulu.

Telah kami jelaskan bahwa nafs harus disibukkan dengan sesuatu. Begitulah fitrah nafs, seperti api, maksudnya, nafs selalu membutuhkan kesibukan seperti api membutuhkan kayu baker. Jika mampu, nafs akan mencari kemuliaan dan jika tidak mampu maka dia akan menggantinya dengan perbuatan-perbuatan hina. Oleh karena itu wahai saudaraku salik, sibukkanlah nafs mu dnegan kenikmatan hati. Itulah kerajaan yang sejahtera. Kenikmatan ini tidak diketahui oleh para pecinta dunia yang diuji dengan mengumpulkan dan menyimpan harta. Kenikmatan ini telah disebutkan oleh Allah Taala dalam wahyuNya:

"Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik pria maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik." (an Nahl 16:97)

Kehidupan yang baik di sini adalah perasaan qonaah dan bahagia walau tidak memiliki harta. Perasaan ini merupakan buah hubungan yang baik. Sebaliknya, engkau melihat seorang hamba memiliki kekayaan dan kehidupan yang baik, tetapi merasa tersiksa. Dadanya terasa sempit, akhlaknya jelek dan kesedihan selalu menyertainya. Sebab dia mengabaikan hak-hak Allah Taala.

Allah Taala mewahyukan:

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta."
(Thoha. 20:124)

Ikrimah berkata:

"Allah memberi orang-orang yang melupakan Nya rezeki haram yang mempersulit kehidupannya."

Sebab, sesuatu yang haram akan memperburuk akhlak, merusak hati dan menyempitkan dada sebagaimana telah terbukti dan tidak diragukan. Orang seperti ini mendapat bencana, kelelahan, gelisah dan keinginan-keinginan-nya tidak terwujud. Kesusahannya tidak akan pernah berakhir. Kita berlindung kepada Allah dari musibah seperti ini. Dalam sebuah syair disebutkan:

Hati yang kaya, merasa cukup dengan sedikit harta yang dapat menutup kebutuhanmu
Jika lebih dari itu, menjadi miskinlah hatimu.

Hati yang kaya tidak akan membutuhkan berbagai kenikmatan rendah yang kita rasakan saat ini, seperti berbagai hiburan yang melalaikan, pakaian mewah, kesibukan memperindah rumah dan urusan duniawi lainnya. Dalam pandangan orang-orang yang memiliki semangat dan akal, perbuatan ini sangatlah rendah. Manusia mendapatkan musibah dnegan menghambur-hamburkan hartanya dan menyia-nyiakan umurnya untuk memperoleh kenikmatan di atas.

Inilah siksa yang menunjukkan bahwa kedudukannya di sisi Allah Taala sangat rendah. Pahami ini, jangan terjerumus ke dalamnya. Berdoalah selalum maka Ia akan merahmatimu, sebab Ia Maha Dekat dan Maha Mengabulkan doa.