Nasihat Kyai


KH. An'im Falahuddin Machrus: Jadilah Pemburu Dunia yang Berjiwa Akhirat

Setiap insan yang beriman haruslah memburu dua sisi tujuan yaitu dunia dan akhirat. Karena itu mereka yang pernah menjadi seorang santri yang notabene pernah mengenyam pendidikan yang mengantar menuju tujuan akhirat, meski kemudian menyebar dan berbaur dengan masyarakat untuk mengarungi kehidupan dunia, tidak boleh luntur kesantriannya bahkan seharusnya harus lebih bangga pada nilai kesantriannya. Bagaimanapun jiwa surgawi yang didapat dari dunia pesantren akan menjadi kontrol terbaik bagi kehidupan dunianya.

Syaikh Muhammad Ibn Alwy al Maliki al Hasani adalah seorang yang bergelar doktor, tetapi nilai keulamaannya lebih menonjol. Begitu juga para dosen di Umm al Qurra Makkah atau Dar al Ahqaf Yaman, jiwa keulamaan/kesantriannya tidak sama sekali luntur akibat jabatan dunia yang dia sandang. Di manapun dia berada, baik di pesantren maupun di kampus setiap gerak langkahnya diliputi oleh aura keulamaan yang kuat. Bagaimanapun harus difahami bahwa ad Dun-ya Maz-ra'ah al Akhirat.

Dari tinjauan akademis, metode pendidikan di pesantren sejak belajar a-ba-ta hingga kajian Ihya' Ulumuddin selalu dituntun oleh Kyai. Kelebihan dari metode ini adalah siswa didik terproses menjadi sosok yang teliti dalam berpikir karena terbiasa dengan pengamatan satu-satu. Hanya saja pada tingkat analisa santri menjadi lemah karena tidak terbiasa.

Sementara itu di dunia kampus atau bahkan pada sekolah tingkat lanjutan, sejak awal mereka diajarkan metodologi analisa maka hasil yang didapat dari pola pikirnya memiliki daya analisa yang matang. Hanya saja kemudian mereka yang ada di dunia kampus ini lebih mengandalkan otak dan pemikiran global tetapi tingkat kejelian dalam melihat masalah menjadi kurang.

Kedua sistem ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu menurut pandangan saya akan menjadi suatu hal yang luar biasa bila kedua hal ini digabung. Terjadilah sosok ulama yang cendekia, teliti dalam setiap masalah dan memiliki analisa yang mendalam dalam setiap mengambil keputusan. Tidak grusa grusu. Tidak mudah takjub dengan amplop terbang (baca: uang sogokan) atau bujuk rayu segala sesuatu yang lebih bermakna kebendaan dan dunia.

Seperti halnya tujuan akhirat harus menjadi koridor atau bingkai pembatas dalam menjalani kehidupan di dunia. Ilmu pesantren haruslah menjadi bingkai dari setiap pola pikir yang bebas. Teologi pembebasan harus berada dalam pengawasan teologi kepesantrenan. Dari kolaborasi dua sisi sumber ilmu ini, saya berharap akan muncul para pemimpin bangsa yang memiliki management kepemimpinan yang baik, ekonom yang baik atau apa saja yang memiliki prinsip kepesantrenan yang kuat. Dari sana kita akan menemui pelaku usaha yang jujur karena bermotivasi akhirat, lurah, bupati, gubernur, presiden atau seseorang dalam profesi apa saja yang selalu menjunjung tinggi akhlak karimah, setiap keputusannya memberi manfaat yang besar bagi orang lain. Khairun Naas Anfa'uhum li al Naas.

Wallahu a'lam.

Penulis adalah Pengasuh PP HM Lirboyo Kediri yang menyampaikan nasehat ini pada forum mahasiswa alumni Lirboyo Malang pada tanggal 31 Maret 2007