Nasihat Kyai


K.H. Masduqi Machfudh: Musibah Penghapus Dosa

Dalam dua tahun terakhir ini, negara kita seperti tidak pernah henti-hentinya mengalami cobaan dan musibah. Mulai dari wabah penyakit flu burung hingga demam berdarah yang senantiasa hadir menyertai musim penghujan. Belum lagi bencana alam lainnya.

Terkadang di antara kita atau keluarga yang terkena musibah sakit, kita tidak mampu berlaku sabar menerima ujian itu. Tidak jarang kita mempertanyakan keadilan Tuhan. Bahkan kita jarang menyempatkan diri pada saat itu bermuhasabah atas hal-hal yang telah kita lakukan.

Umat Islam harus menyadari bahwa penyakit adalah tebusan bagi dosa orang yang sakit. Apakah dosa orang yang sakit otomatis akan terhapus dengan sakit yang dideritanya? Tentu tidak! Dosa seseorang bisa terhapus bila ia melakukan taubat. Kita diperintah memperbanyak bacaan istighfar apabila kita sakit. Jangan malah menggerutu apalagi mengeluh (sambat-sambat: Jawa). Selain bertaubat, kita harus meniatkan hati agar bila sembuh tidak akan melakukan lagi perbuatan yang tidak diridlai Allah. Insyaallah dengan niat seperti itu dosa kita akan dihapus seiring dengan sakit/musibah yang kita derita.

Diriwayatkan dari Hasan Basri RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Seseorang yang sakit panas, maka demam yang dirasakan itu menjaganya dari api neraka."

Abu Said al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

Tuhanmu pernah berfirman, "Demi kemuliaan-Ku dan demi keagungan-Ku, Aku tidak akan berada dalam keadaan dari keburukan amal yang pernah ia perbuat dengan penyakit yang ada di badannya atau kesempitan dalam kehidupannya. Dan bila ia tetap sakit hingga meninggal maka ia kembali kepada-Ku bagaikan bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya." Allah mengatakan kepada para malaikat, "Wahai para malaikat catatlah pahala amal bagi hamba-Ku yang sedang sakit sebagaimana pahala amal yang ia kerjakan tatkala ia dalam keadaan sehat."

Apabila seseorang istiqamah salat jamaah di masjid dan pada suatu saat ia sedang sakit dan tidak mampu mengerjakan salat berjamaah, maka pahala salat jamaah akan tetap ditulis oleh malaikat. Itulah kemuliaan umat Muhammad dan rahasia di balik orang-orang sakit yang diberi kemuliaan oleh Allah. Di antara keistimewaan orang yang sakit adalah apa yang disampaikan Rasulullah:

عَنْ عُمَرَ بْنِِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلْتَ عَلَى مَرِيضٍ فَمُرْهُ أَنْ يَدْعُوَ لَكَ فَإِنَّ دُعَاءَهُ كَدُعَاءِ الْمَلآئِكَةِ. رواه إبن ماجة

Umar Ibn Khattab berkata, "Rasulullah bersabda kepadaku, "Ketika engkau menjenguk orang yang sakit, mintalah dia berdoa untukmu, karena doa orang yang sakit seperti doa para malaikat." HR Ibn Majah.

Karena itu para auliya’/kekasih Allah bila diberi sakit mereka akan menerimanya dengan senang hati.

Nabi Muhammad menganjurkan untuk menjenguk orang yang sakit. Ada hikmah tersendiri yang dapat direnungi yaitu kesadaran akan pentingnya nikmat sehat yang diberikan Allah kepada kita.

Oleh karena itu, mumpung belum sakit gunakanlah nikmat kesehatan ini dengan sebaik mungkin untuk beribadah kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya. Bila sakit sudah menimpa kita, maka ibadah kita menjadi kurang sempurna. Bila salat pada waktu sehat bisa dengan berdiri, maka kalau sakit kita hanya bisa salat dengan duduk atau berbaring. Nikmat sehat inilah yang sering kita abaikan. Biasanya, ketika sakit barulah kita sadar bahwa sehat itu sangat penting dan mahal harganya.

Wallahu a’lam