Nasihat Kyai


KH. Masduqi Machfudz: Jangan Terlalu Bangga Dengan Akal

Suatu hari ketika sekelompok orang ribut menghitung hisab awal puasa, apakah dimulai tanggal 23 atau 22 September. Salah seorangnya mereka nyeletuk,

“Duh, kok repot tho? Wong matematika itu katanya ilmu pasti, dengan berbagai cara ternyata tidak mampu memberi kepastian. Ada 43 cara menghitung, semua katanya benar, tetapi hasilnya bolak-balik ndak sama. Mbok ikut melihat bulan aja, jelas kita bisa tahu ada atau tidak. Kalau ndak ada kan dibuat sempurna 30 hari seperti kata hadist, gitu kok repot.”

Ungkapan salah seorang yang nyeletuk tadi memang tidak sepenuhnya benar. Namun kecenderungan orang saat ini mendewakan akal menjadikan banyak orang mengalami kemunduran spiritual dan budi pekerti. Ujung-ujungnya aturan agama menjadi lebih bersifat rutinitas formal bagi seseorang dibanding proses penjiwaan agama. Sampai-sampai ketika orang tidak merasakan perubahan mutu ibadahnya, beberapa orang mengadakan kursus sholat khusyu’ dan mungkin di masa yang akan datang ada kursus dzikir khusyu’, puasa khusyu’ haji khusyu dan lain-lain.

Mestinya kita manusia, harus mulai sadar bahwa tidak semua hal bisa dihitung matematis, atau diproses dengan akal. Terlebih sehebat apapun akal manusia toh dia masih mempunyai kelemahan. Buktinya:

  • Akal pikiran manusia meskipun cerdas, ternyata tidak dapat mengetahui hakekat kebenaran. Buktinya adalah banyaknya teori kebenaran yang telah dikemukakan oleh para ahli filsafat. Padahal kita tahu bahwa kebenaran yang sejati itu hanyalah satu. Disamping itu, setiap percekcokan, pertengkaran, perkelahian dan peperangan yang terjadi di seluruh dunia ini, sumbernya pastilah karena masing-masing fihak berebut benar.
  • Akal pikiran manusia meskipun cerdas, ternyata tidak dapat mengetahui hakekat dan letak kebahagiaan hidup. Apa yang dibayangkan oleh seseorang akan membahagiakan hidupnya, ternyata setelah apa yang dibayangkan tersebut tercapai, justeru seringkali mengantarkannya kepada kesengsaraan hidup yang berkepanjangan.
  • Akal fikiran manusia meskipun cerdas, ternyata tidak mampu menjawab tujuh macam pertanyaan yang diajukan kepadanya, yaitu:
    1. Dari mana asal manusia ini sebelum hidup di dunia?
    2. Mengapa manusia harus hidup di dunia ini?
    3. Siapa gerangan yang menghendaki kehidupan manusia di dunia ini?
    4. Untuk apa sebenarnya manusia hidup di dunia ini?
    5. Mengapa setelah manusia terlanjur senang hidup di dunia ini dia harus mati, pada hal tidak ada orang yang menginginkan kematian?
    6. Siapa sebenarnya yang menghendaki kematian manusia itu?
    7. Setelah manusia mati, ruhnya berpisah dengan raganya, kemana ruh manusia itu pergi?

Dari berbagai macam kelemahan akal diatas, masihkah kita mendewakan akal dan mengesampingkan aspek lain yang seharusnya menjadi pengontrol sepak terjang akal? Ataukah kita dan negara kita tetap saja terus dan terus mencetak orang pintar tapi lupa mencetak orang yang benar dan dapat dipercaya.

Baca juga:
Manfaat Agama bagi Kehidupan Manusia