Nasihat Kyai


KH. Nafi' Abdullah Salam: Mengapa Harus Gegeran?

Mengapa perpecahan makin seru dan menjadi-jadi? Sebab sekarang ini setiap kali orang berbeda pendapat itu tidak mengikuti cara ulama’ dulu. Dulu beliau-beliau kalau beda pendapat tidak mencari bolo (pengikut--Jw), ditandangi (dihadapi--Jw) sendiri dan tidak mencari pengikut apalagi dengan cara-cara memfitnah. Imam madzahib dan para kyai beda pendapat tapi dengan tetap menghormat. Pada zaman dahulu banyak gegeran, tapi ‘bar yo bar’ (tidak ada dendam--Jw), tidak mencari teman untuk berseteru. Lha sekarang, gegeran selalu diikuti dengan mencari pengikut dan pendukung, mengajari memfitnah maka tidak heran kalau gegeran itu semakin dalam dan ruwet.

Ulama’-ulama’ terdahulu bisa menjadi baik karena berpegang teguh dan berkeinginan untuk menjadi muttaqin yang mukmin beneran. Ulama’-ulama’ ini berpegang pada firman Allah (QS. Ali-Imron: 134-135)

وَالَّذِيْنَ يُنْفِقُونَ فِى السراء وَ الضَّراء وَالكَاظِمِيْنَ الغَيظَ وَالعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ واللهُ يُحِبُّ المُحْسِنِيَن وَالَّذِيْنَ إِذَا فَعَلُوا فَاخِشَةً أَو ظَلَمُوا ذَكَرُوااللهَ فَاسْتَغْفَرُوالِذِنُوبِهِمٍ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يَصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهَمُ يَعْلَمُونَ

Mereka adalah orang-orang yang membelanjakan hartanya, baik dalam keadaan cukup, kurang, mampu maupun tidak mampu, demi mendapatkan perkenan Allah. Kemudian, disamping itu, juga menahan marah sehingga tidak sampai membalas terutama kepada orang yang tidak berbuat baik kepada mereka, bahkan memaafkannya. Mereka itu termasuk orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah akan selalu memberi pahala dan perkenan-Nya kepada orang-orang seperti ini.

Juga apabila orang-orang yang--apabila berbuat dosa, besar atau kecil--segera mengingat Allah dengan keagungan, siksa, pahala, kasih sayang, dan murka, kemudian menyesal dan memohon ampunan-Nya. Hanya Allah-lah memang, yang dapat mengampuni dosa. Disamping, setelah itu semua, mereka juga tidak terus melakukan dosa dan perbuatan yang mereka ketahui tidak baik.

Sebenar-benar mukmin adalah sebagaimana firman Allah (QS. Al-Anfal: 2-4)

إِنَّمَا المُؤْمِنُونَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِيْنَ يُقِيْمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ألَئِكَ هُمُ المُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ

Sesungguhnya hati orang-orang yang benar-benar beriman selalu dipenuhi rasa takut dan tunduk kepada Allah. Apabila disebut asma Allah hati mereka bergetar dan diliputi rasa takut (Haybah). Semakin mereka mendengar ayat Al-Qur’an dibacakan, semakin kokoh keimanan mereka dan semakin dalam rasa tunduk serta semakin bertambah pengetahuan mereka kepada Allah. Sehingga, pada akhirnya mereka tidak menyandarkan diri selain kepada Allah yang menciptakan, melindungi, dan memelihara mereka. Sesungguhnya oranng-orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang mengerjakan sholat berikut rukun-rukunnya secara sempurna dengan penuh rasa khusyu' dan ketundukan diri agar mereka selalu dalam keterkaitan dengan Tuhan, menginfakkan sejumlah harta yang diberikan Allah SWT kepada mereka untuk kepentingan jihad, kebaikan-kebaikan sosial dan bagi kepentingan kaum lemah.

Mereka yang memiliki sifat-sifat yang seperti tersebut diatas itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah. Dia memberikan perkenan-Nya kepada mereka, mengampuni kesalahan, memberikan rizki yang baik kepada mereka di dunia dan kehidupan yang membahagiakan di akhirat (QS.Al-Hujurat: 12)

يَاأَيُّهَا الذِيْنَ أَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ أَنْ تَأَكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُموهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah prasangka buruk terhadap orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa yang harus dihukum. Janganlah kalian menyelidiki dan mencari-cari aib dan cela orang-orang muslim, dan jangan pula kalian saling menggunjing yang lain. Apakah salah seorang d iantara kalian senang memakan bangkai saudaranya yang mati yang kalian sendiri sebenarnya merasa jijik? Maka bencilah perbuatan menggunjing, karena perbuatan menggunjing itu bagaikan memakan bangkai saudara sendiri. Peliharalah diri kalian dari azab Allah dengan menaati semua perintah dan menjahui segala larangan. Sesungguhnya Allah Maha Agung dalam menerima semua pertobatan orang-orang yang mau bertobat, lagi Maha Luas kasih sayang-Nya terhadap alam semesta. Dengan demikian penyebaran fitnah menjadi berkurang.

Sebenarnya kalau mau gampang-gampangan yang disebut dengan muttaqin dan mu’min beneran yaitu orang-orang yang memenuhi kriteria tadi, tua ora gelonan (dewasa dan tidak mudah sakit hati). Dalam situasi apapun tidak meiliki rasa sakit hati sebab pada hakekatnya semua itu tergantung pada keinginan

من يحرك.

Allah Subhanahu wa ta’ala adalah penguasa alam seisinya.

Transkrip oleh KH. Muadz Thohir dari perbincangan Senin, (2006/04/03) pukul 10.00 WIB di Perguruan Islam Matholiul Falah.